Minggu

KEMAMPUAN MEMAHAMI BAHASA KIAS DALAM PUISI PADA SISWA KELAS II SMA PGRI 02 TALUN TAHUN AJARAN 1993/1994

Rancangan Penelitian
KEMAMPUAN MEMAHAMI BAHASA KIAS DALAM PUISI PADA SISWA KELAS II SMA PGRI 02 TALUN TAHUN AJARAN 1993/1994
I.Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Sebagai salah satu genre sastra, puisi menggunakan bahasa sebagai media penyampaianya. Namun , berbeda dengan bahasa sehari-hari, bahasa dalam puisi bersifat implisit dan menyarankan berbagai kemungkinan arti. Hal ini seperti apa yang dikatakan Hudson dalam Aminuddin bahwa dalam puisi, kata-katanya membuahkan ilusi dalam imajinasi. (Hudson, dalam Aminuddin, 1987:134).
Seperti uraian oleh Waluyo, sifat konotatif dalam puisi disebabkan oleh penggunaan gaya bahasa (bahasa figuratif), yang menurut Abram (1981)merupakan wujud penggunaan bahasa yang menyimpang atau melewati maknanya yang lazim, sehingga mampu menggambarkan berbagai kemungkinan makna dan menimbullkan efek tertentu (Abram,1981:63).
Uraian diatas menunjukan pada kita bahwa gaya bahasa memiliki peranan yang penting dalam puisi, sehingga bila dihubungkan dengan upaya memahami puisi, (baca: apresiasi puisi ), yang menurut Waluyo harus dibekali oleh kemampuan memahami struktur fisik dan struktur batin ( Waluyo ,1987: 101), maka gaya bahasa merupakan unsur pembangun puisi yang harus dipahami terlebih dahulu.
Pengajaran bahasa kias sebagai bagian dari gaya bahasa memiliki dua manfaat. Manfaat pertama berhubungan dengan pengajaran kosa kata, yaitu menambah perbendaharaan kata siswa, dan manfaat kedua berhubungan dengan pengajaran apresiasi bahasa dan sastra Indonesia, yaitu membantu siswa dalam hal memahami bahasa yang bersifat konotatif.
Bertolak dari pemikiran (1) gaya bahasa merupakan salah satu unsur pembangun puisi yang penting, (2) bila dihubungkan dengan kegiatan apresiasi puisi , gaya bahasa merupakan pembangun puisi yang harus dipahami terlebih dahulu, dan (3) pengajaran gaya bahasa membuahkan manfaat ganda, maka pada kesempatan ini peneliti bermaksud mengadakan penelitian tentang kemampuan memahami bahasa kias dalam puisi pada kelas II SMA.
Penelitian yang berhubungan dengan masalah kemampuan memahami bahasa kias, walaupun belum banyak tetapi sudah pernah dilakukan oleh peneliti lain , sehingga banyak menimbulkan kesamaan dan perbedaan. Beberapa penelitian yang pernah penulis diketahui adalah seperti di bawah ini.
(1) “ Pelaksanaan Pengajaran Gaya Bahasa di SPG Negeri Malang oleh mahasiswa S-I 1976 JPBSI, FPBS IKIP Malang Tahun Akademik 1976/1977” oleh Sulastri
(2) “ Tinjauan Pengajaran Gaya Bahasa dalam Hubungannya dengan Apresiasi Sastra oleh Mahasiswa S-I 1978 JPBSI , FPBS IKIP Malang Tahun Akademik 1978/1979” oleh Wiwik Widjayanti (1979).
(3) “ Penelitian Kemampuan Menginterpretasikan makna puisi oleh mahasiswa S-I 1981 JPBSI, FPBS IKIP Malang Tahun Akademik 1980/1981” oleh Aminuddin (1981).
Ketiga penelitian diatas yang banyak memiliki kesamaan yaitu penelitian yang pertama yang dilakukan oleh Sulastri, penelitian tersebut terletak pada bagaimana cara pelaksanaan pelajaran gaya bahasa, metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Disamping memiliki kesamaan juga memiliki perbedaan , yaitu terletak pada populasi dan lingkup masalah. Kedua penelitian diatas menggunakan populasi yang berbeda.
Dari telaah terhadap penelitian – penelitiaan diatas menunjukan bahwa belum ada penelitian yang secara khusus menggarap masalah kemampuan memahami bahasa kias dalam puisi pada siswa kelas II SMA. Bertolak dari kenyataan tersebut maka penelitian tentang kemampuan memahami bahasa kias dalam puisi pada siswa kelas II SMA perlu diadakan.

1.2. Masalah
1.2.1. Jangkauan Masalah
Penelitian kemampuan memahami bahasa kias dalam puisi pada siswa kelas II SMA PGRI Talun ini, berkaitan dengan berbagai macam aspek yang cukup luas, seperti yang akan diuraikan dibawah ini.
Bahasa kias, sebagian dari gaya bahasa dalam kurikulum SMA 1984 secara eksplisit masuk dalam pokok bahasan Apresiasi Bahasa dan Sastra Indonesia. Sesuai dengan judul penelitian ini, maka materi bahasa kias dalam penelitian ini hanya di khususkan pada lingkup pokok bahasan Apresiasi Bahasa dan Sastra Indonesia.
Dilihat dari wujudnya, bahasa kias akan meliputi berbagai jenis. Abram menyebutkan bahwa bahasa kias meliputi berbagai jenis yaitu simile, metafora, epic simile, symbol, metomimia, sinekdoke, personifikasi, hiperbola, ironi, litotes, paradoke, perifrasis, dan understatement. Selain Abram, Keraf menyebutkan bahwa bahasa kias meliputi simile, metafora, alegori, parable, epitet, sinekdoke, metomimia, antonimasia, hipalase, ironi, sinisme, sarkasme, satire, innuendo, antifrasis, dan pun. Sedangkan Pradopo menyebutkan bahwa bahasa kias meliputi simile, metafora, perumpamaan epos, alegori, personifikasi, metomimia, dan sinekdoke. (Abram, 1981:63:Keraf, 1986:136:144:Pradopo, 1987:61-87).
Ditinjau dari kajiannya, Aminuddin menjelaskan bahwa apabila kita berbicara bahasa kias, maka tidak terlepas dari pembicaraan tentang (1) hubungan bahasa kias dengan kandungan makna, (2) hubungan bahasa kias dengan seluk beluk ekspresi pengarang (penyair) yang akan berhubungan erat dengan masalah individual pengarang (pengarang ) maupun konteks sosial masyarakat yang melatar belakanginya (3) hubungan bahasa kias dengan aspek keindahan dan (4) hubungan bahasa kias dengan nuansa penuturan (Aminuddin, 1987:72).
Ditinjau dari sasarannya penelitian ini, sebenarnya dapat mengangkat siswa kelas I, II dan III. Dalam hal ini peneliti menetapkan kelas II sebagai sasaran penelitian dilandasi pemikiran bahwa, (1) siswa kelas II di ungkap telah menerima kajian materi pelajaran secara relatif lebih lengkap dan (2) dilihat dari kemampuannya dalam memahami konotasi makna.
1.2.2. Pembatasan Masalah
Masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut:
(1) Bagaimanakah kemampuan siswa kelas II SMA PGRI Talun tahun ajaran 1992/1993 dalam memahami pengertian bahasa kias metafora dalam puisi ?
(2) Bagaimanakah kemampuan siswa kelas II SMA PGRI Talun tahun ajaran 1992/1993 dalam memahami pengertian bahasa kias simile dalam puisi ?
(3) Bagaimanakah kemampuan siswa kelas II SMA PGRI Talun tahun ajaran 1992/1993 dalam memahami pengertian bahasa kias personifikasi dalam puisi ?
(4) Bagaimanakah kemampuan siswa kelas II SMA PGRI Talun tahun ajaran 1992/1993 dalam memahami pengertian bahasa metomimia dalam puisi ?
(5) Bagaimanakah kemampuan siswa kelas II SMA PGRI Talun tahun ajaran 1992/1993 dalam memahami pengertian bahasa sinekdoke dalam puisi ?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1. Tujuan Umum
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran obyektif tentang kemampuan siswa kelas II SMA PGRI 02 Talun tahun ajaran 1993/1994 dalam memahami bahasa kias dalam puisi.
1.3.2. Tujuan Khusus
Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk memperoleh deskripsi tentang:
(1) Kemampuan memahami pengertian bahasa kias metafora dalam puisi kelas II SMA PGRI Talun tahun ajaran 1993/1994;
(2) Kemampuan memahami pengertian bahasa simile dalam puisi kelas II SMA PGRI Talun tahun ajaran 1993/1994;
(3) Kemampuan memahami pengertian bahasa kias personifikasi dalam puisi kelas II SMA PGRI Talun tahun ajaran 1993/1994;
(4) Kemampuan memahami pengertian bahasa kias metonimia dalam puisi kelas II SMA PGRI Talun tahun ajaran 1993/1994;
(5) Kemampuan memahami pengertian bahasa kias sinekdoke dalam puisi kelas II SMA PGRI Talun tahun ajaran 1993/1994.

1.5. Asumsi dan Hipotesis
1.5.1. Asumsi
Sejumlah asumsi yang digunakan dalam penelitian ini , adalah:
(1) Siswa kelas II SMA PGRI 02 Talun telah memperoleh pelajaran apresiasi sastra, dalam hal ini menyangkut pemahaman makna kias dalam puisi.
(2) Siswa kelas II SMA PGRI 02 Talun telah memperoleh pelajaran apresiasi sastra sesuai dengan butir-butir pokok bahasan yang tertuang dalam GBPP Kurikulum 1984 mata pelajaran bahasa Indonesia
(3) Guru Bahasa Indonesia di SMA PGRI 02 Talun dalam pengajaran selalu menyesuaikan diri dengan kurikulum 1994.
1.5.2. Hipotesis
1.5.2.1. Rumusan Hipotesis
Sebagai pengarah dan pegangan dalam penelitian ini, ditetapkan sejumlah hipotesis. Hipotesis yang dimaksud adalah sebagai berikut:
(1) Siswa kelas II SMA PGRI 02 Talun tahun ajaran 1993/1994 mampu memahami pengertian bahasa kias metafora dalam puisi.
(2) Siswa kelas II SMA PGRI 02 Talun tahun ajaran 1993/1994 mampu memahami pengertian bahasa kias simile dalam puisi.
(3) Siswa kelas II SMA PGRI 02 Talun tahun ajaran 1993/1994 mampu memahami pengertian bahasa kias personifikasi dalam puisi.
(4) Siswa kelas II SMA PGRI 02 Talun tahun ajaran 1993/1994 mampu memahami pengertian bahasa kias metonimia dalam puisi.
(5) Siswa kelas II SMA PGRI 02 Talun tahun ajaran 1993/1994 mampu memahami pengertian bahasa kias sinekdoke dalam puisi.
1.5.2.2. Kriteria Pengujian Hipotesis
Kelima hipotesis pada butir 1.5.2.1. dinyatakan benar , jika sama atau lebihdari 75% siswa sampel mendapat nilai 75(tujuh puluh lima) keatas berdasarkan pengolahan data skor mentah hasil instrumen pengukurannya, dan dianggap tidak benar, jika sama atau lebih besar dari 75% siswa sampel mendapat nilai lebih kecil dari 75 (tujuh puluh lima). Berdasarkan pengolahan data skor mentah hasil instrumen pengukurannya.
1.6. Penegasan Istilah
Dalam penelitian ini digunakan seperangkat istilah untuk mengoperasionalkan rumusan masalah yang telah ditetapkan. Adapun istilah yang dimaksudkan sebagai berikut :
(1) Kemampuan
Kemampuan adalah tingkat pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan pengalaman belajar yang dimiliki siswa dalam memberikan pengertian secara definisi, memberikan contoh, mengklasifikasikan , menafsirkan pesan dan makna suatu obyek, dalam hal ini adalah bahasa kias.
(2) memahami adalah tingkat pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan pengalaman belajar yang dimiliki siswa dalam memahami secara definisi . Memberikan contoh, mengklasifikasi, menafsirkan pesan dan makna suatu obyek dalam hal ini adalah bahasa kias .
(3) Bahasa Kias
Bahasa kias adalah wujud penggunaan bahasa yang dimiliki cirri tertentu, yaitu (1) ditinjau dari bentuknya dapat berupa satuan pengajaran bahasa yang mengandung unit pengertian tertentu , (2) ditinjau dari jenisnya dapat meliputi metafora, simile, personifikasi, metonimia, sinekdoke, dan sebagainya.
(4) Metafora
Metafora adalah penggunaan kata-kata yang makna literalnya secara implisit diacukan pada pengertian lain melalui perbandingan sesuai dengan terdapatnya kesejahteraan sejumlah ciri, kualitas, maupun unsur-unsur yang diperbandingkan. Contoh: Bumi ini perempuan jalang.
(5) Simile
Simile adalahperbandingan antara dua unsur yang pada dasarnya memiliki acuan berbeda dengan menggunakan bentuk perbandingan misalnya, seperti, bagaikan. Misalnya:Kau menjelma secantik jelita, tapi terkulai bagai dikuyak.
(6) Personifikasi
Personifikasi adalah pemberian cirri insani pada sesuai yang tidak bernyawa maupun konsep tertentu yang bersifat abstrak. Misalnya: Ajal bertahta, sambil berkata: ‘Kerinduan terus memanggil’.
(7) Metonomi
Metonimi adalah perwakilan simbol lain, sehingga B misalnya, dapat mewakili simbol A. Misalnya (1) Dalam Ferry yang melancar ke tanah Jawa.
(8) Sinekdoke
Sinekdoke adalah penampilan bagian sebagai wakil keseluruhan, atau sebaliknya penampilan keseluruhan sebagai wakil dari bagian sesuai dengan terdapatnya ciri tautan sifat maupun kualitasnya. Misalnya : Kusediakan berbakti, dan (2) Bumi ini perempuan jalang.
(9) Puisi
Puisi adalah salah satu genre sastra yang menggunakan bahasa sebagai medianya. Berbeda dengan bahasa sehari-hari, bahasa dalam puisi bersifat konotatif.
II. Tinjauan Pustaka dan Kerangka teori
2.1 Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka yang dimaksud penelitian ini adalah teori-teori yang berkaitan dengan permasalahan secara umum. Tinjauan pustaka ini digunakan sebagai landasan dalam rangka mengarahkan pembahasan masalah sesuai dengan masalah dan tujuan penelitian yang ditetapkan, tinjauan pustaka ini terdiri atas:
2.1.1 Bahasa kias dalam puisi (Aminuddin, 1990:72-84)
2.1.2 Pembahasan makna kias dalam puisi (Aminuddin, 1987:149-153, ` 1990: 72-73 ,Antara , 1985: 22- 25)
2.1.3 Pengertian bahasa kias dalam metafora ( Aminuddin, 1990 : 77)
2.1.4 Pengertian bahasa kias simile (Aminuddin , 1990 : 77)
2.1.5 Pengertian bahasa kias personifikasi (Aminuddin , 1990 :77)
2.1.6 Pengertian bahasa kias metonimia (Aminuddin , 1990 :77)
2.1.7 Pengertian bahasa kias sinekdoke (Aminuddin ,1990 :77)

2.2 Kerangka Teori
Berdasarkan kajian perpustakaan yang relavan dengan masalah-masalah yang di teliti ,maka di susun kerangka teori yang mencangkup teori-teori sebagai berikut:
2.2.1 Bahasa kias dalam puisi
2.2.2 Pemahaman makna kias dalam puisi
2.2.3 Pengertian bahasa kias metafora
2.2.4 Pengertian bahasa kias simile
2.2.5 Pergertian bahasa kias personifikasi
2.2.6 Pengertian bahasa kias metonimia
2.2.7 Pergertian bahasa kias sinekdoke
III Metodologi Penelitian
3.1 Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dekripsi .Hal ini bahwa penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran objektif tentang kemampuan siswa dalam memahami bahasa kias puisi .
3.2 Populasi
Adapun dalam penelitian ini , populasi yang diambil adalah siswa kelas 11 SMA PGRI 2 Talun tahun ajaran 1993/1994.Siswa yang tercangkup dalam populasi adalah siswa yang telah memperoleh program pengajaran gaya bahasa , melalui pengajaran unsur-unsur intrinsic dalam karya sastra dan pengajaran kosa kata berdasarkan kurikulum 1984.
3.2 Sampel
Sampel dalam penelitian ini, di ambil dalam pengunaan teknik cluster sampal ,yaitu menentuikan satu kelas dari jumlah kelas yang ada .Sampel dalam penelitian ini, berjumlah 45siswa, yaitu siswa kelas II A2 SMA PGRI 2 Talun tahun ajaran 1993/1994.
3.3 Data dan Intrumen Penelitian
3.4 .1 Data
Data dalam penelitian ini, berupa jawaban tes kemampuan memahami bahasa kias dalam puisi , yang meliputi tujuh aspek kemampuan . Ketujuh aspek tersebut adalah (1) kemampuan memahami bahasa kias dalam puisi , (2) kemampuan memahami makna kias dalam puisi ,(3) kemampuan memahami pengertian bahasa kias metafora , (4) kemampuan memahami pengertian bahasa kias simile, (5) kemampuan memahami pengertian bahasa kias personifikasi ,(6) kemampuan memahami pengertian bahasa kias metonimia , dan (7) kemampuan pengertian bahasa kias sinekdoke.
3.4.2 Intrumen Penelitian
Intrumen yang digunakan dalam penelitian ini , berupa tes kemampuan memahami bahasa kias dalam puisi pada siswa kelas II A2 SMA, yang berbentuk pilihan ganda. Adapun kegiatan yang dilakukan dalam penyusunan intrumem meliputi (1) perumusan tujuan, (2) pemilihan bahan, (3) uji coba intrumen dan (4) analisis hasil uji coba.
3.5 tehnik Penelitian
3.5.1 Tehnik Pengumpulan data
Pengumpulan data dilakukan dengan memberi tes kepada siswa sampel. Tes dilakukan setelah intrumen penelitian-penelitian yang telah diuji cobakan disempurnakan. Secara keseluruhan pelaksanaan pengumpulan data dikoordinasi oleh peneliti dengan dibantu oleh guru bahasa Indonesia setempat.
3.5.2 Tehnik Analisis Data
Adapun langkah-langkah analisis data dalam penelitian ini adalah (1) penyeleksian skor, (2) menentukan skor maksimal ideal (SMI), (3) mencari nilai rata-rata ideal (MI), (4) mencari standar deviasi (SDI), (5) menyusun tabel konversi pengubahan skor mentah ke nilai angka dengan skala0-10, (6) mengubah skor mentah menjadi nilai skala 0-10, (7) menghitung distribusi frekuensi, (8) penentuan kualifikasi.
3.6 Prosedur Penelitian
3.6.1 Tahap Persiapan
1. Pemilihan judul
2. Konsultasi dengan dosen pembimbing
3. Studi kepustakaan
3.6.2 Tahap Pelaksanaan
1. Pengumpulan data
2. Pengolahan data
3. Penyimpulan hasil analisis data
3.6.3 Tahap Penyelesaian
1. Penyusunan draf laporan
2. Pengrevisian draf laporan
3. Pemantauan draf laporan
Pengetikan atau penggadaan draf laporan
2.1.1 Bahasa Kias Dalam Puisi (Aminuddin, 1990:72-84)
2.1.2 Pembahasan makna kias dalam puisi (Aminuddin, 1987:149-153, 1990:72-73, antara, 1985:22-25)
2.1.3 Pengertian bahasa kias metafora (Aminuddin, 1990:77)
2.1.4 Pengertian bahasa kias simile (Aminuddin, 1990:77)
2.1.5 Pengertian bahasa kias personifikasi (Aminuddin, 1990:77)
2.1.6 Pengertian bahasa kias metonimia (Aminuddin, 1990:77)
2.1.7 Pengertian bahasa kias sinekdoke (Aminuddin, 1990:77)

2.2 Kerangka Teori
Berdasarkan kajian kepustakan yang relavan dengan masalah-masalah yang telah, maka disusun kerangka teori yang mencangkup teori-teori sebagai berikut:
2.2.1 Bahasa kias dalam puisi
2.2.2 Pemahaman makna kias dalam puisi
2.2.3 Pengertian bahasa kias metafora
2.2.4 Pengertian bahasa kias simile
2.2.5 Pengertian bahasa kias personifikasi
2.2.6 Pengetian bahasa kias metonimia
2.2.7 Pengertian bahasa kias sinekdoke








ABSTRAK
KEMAMPUAN MEMAHAMI BAHASA KIAS DALAM PUISI PADA SISWA KELAS II SMA PGRI 02 TALUN TAHUN AJARAN 1993\1994
Oleh :DARSIANI
Upaya penelitian mengenai kemampuan memahami bahasa kias dalam puisi pada siswa sekolah menengah atas,sejauh informasi yang terjangkau oleh peneliti belum pernah di lakukan.Bertolak dari kenyataan tersebut,maka penelitian tentang kemampuan memahami bahasa kias dalam puisi pada siswa kelas II SMA perlu di adakan.
Penelitian ini dimaksudkan untuk mendapatkan ……..tentang kemampuan siswa kelas II SMA PGRI 02 Talun tahun ajaran 1993/1994 dalam memahami (1) pengertian bahasa kias dalam puisi (2) pengertian bahasa kias simile dalam puisi (3) pengertian bahasa kias personifikasi dalam puisi, (4) pengertian bahasa kias metonimia dalam puisi, dan (5) pengertian bahasa kias sinekdoke dalam puisi.
Populasi penelitian ini adalah siswa kelas II SMA PGRI 02 Talun tahun ajaran 1993\1994.Dari populasi itu ditentukan sample sejumlah 45 siswa.Teknik yang di gunakan untuk sampel tersebut adalah teknik cluster sampel,yaitu menentukan salah satu kelas dari jumlah kelas yang ada.
Metode yang di gunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif.dengan metode ini diperoleh gambaran objektif tentang kemampuan siswa dalam memahami kelima aspek tersebut di atas.sedangkan alat pengukur kemampuan siswa dalam memahami bahasa kias dalam puisi tersebut dalam berupa tes bentuk pilihan ganda.Dengan alat tersebut dapat di peroleh data kemampuan siswa dalam memahami bahasa kias dalam puisi.Data tersebut dianalisis dengan prosedur (1) pembijian,(2) penentuan skor maksimal, (3) pencarian nilai rata-rata ideal, (4) pencarian standar deviasi ideal, (5) pemasukan nilai rata-rata ideal dan standar deviasi ideal ke dalam tabel konversi skala nilai 0-10.
Penyimpulan hasil analitis data penelitian di lakukan dengan tehnik presentase.penentuan tingkat kemampuan berdasarkan criteria penentuan kualifikasi,yaitu siswa dikatakan mampu,jika 75% siswa sampel mendapat nilai 75 dan dikatakan tidak mampu,jika 75%siswa sampel mendapat nilai 75.
Bertolak dari criteria tersebut dapat di ketahui,bahwa siswa kelas II SMA PGRI 02 Talun tahun ajaran 1993/1994 (1) mampu memahami pengertian bahasa kias metofosa dalam puisi, (2) mampu memahami pengertian bahasa kias simile dalam puisi , (3) mampu memahami bahasa kias personifikasi dalam puisi, (4) tidak mampu memahami pengertian bahasa kias metonimia dalam puisi, dan (5) tidak mampu memahami pengertian bahasa kias sinekdoke dalam puisi.Saran pada peneliti selanjutnya, untuk melakukan penelitian yang berhubungan dengan kemampuan siswa dalam memahami bahasa kias dalam genre sastra yang lain.























BAB I

PENDAHULUAN

1 .1 Latar Belakang dan masalah
1 .1.1 Latar Belakang
Sebagai salah satu genre sastra, puisi menggunakan bahasa sebagai media penyanpainya. Namun , berbeda dengan bahasa dalam komunikasi sehari-hari,bahasa dalam puisi bersifat konotatif, karena makna yang dikandungnya bersifat implicit dan menyarankan sebagai kemungkinan arti (Hudson dalam Aminuddin, 1987:134) seperti yang di katakan oleh Waluyo, dalam abram (1981:63) dalam puisi di sebabkan oleh penggunaan gaya bahasa (bahasa figuratif). Merupakan perwujudan penggunaan bahasa yang menyimpang atau melewati makna yang lazim, sehingga manpu menggambarkan berbagai kemungkinan makna dan menimbulkan efek tertentu . bila di tinjau dari keberadaanya, gaya bahasa dalam puisi selain difungsikan untuk menyampaikan gagasan secara tidak langsung juga di fungsikan untuk memperjelas, memperkuat, menghidupkan objek mati, menstimulasi asosiasi, menimbulkan gelak tawa, dan untuk hiasan (Keraf, 1986:129). Hal ini untuk menyatakan apa yang dimaksudkan penyair, karena (1) gaya bahasa mampu menghasilkan kesenagan imijinatif, (2) gaya bahasa adalah cara untuk menghasilkan imajinasi tambahan dalam puisi, sehingga yang abstrak menjadi kongkrit dan menjadikan puisi lebih nikmat dibaca, (3) gaya bahasa adalah cara untuk menambah intensitas perasaan penyair untuk puisinya dan menyampaikan sikap penyair, (4) gaya bahasa adalah cara untuk mengonsentrasikan makna yang hendak disampaikan dan cara menyanpaikan sesuatu yang banyak dan luas dengan bahasa yang singkat (Perire, dalam Waluyo 1987:83). Kalau melihat begitu kompleksnya peranan gaya bahasa dalam puisi, maka rasanya tidak berlebihan bila pradopo (1989) mengatakan bahwa gaya bahasa merupakan sarana utama untuk menyampai kepuitisan (Pradopo,1985:16). Uraian di atas menunjukkan pada kita bahwa gaya bahasa memiliki peranan yang penting dalam puisi (baca: apresiasi puisi) ,yang menurut Waluyo,1987:101harus dibekali oleh kemampuan memahami struktur fisik dan batin, maka gaya merupakan unsure pembangun puisi yang harus dipahami terlebih. Dikatakan demikian sebab untuk memahami struktur batin puisi, yang merupakan ungkapan apa yang hendak dikemukakan penyair dengan perasaan dan suasana jiwanya kepada pembaca harus diketahui oleh pemahaman terhadap struktur fisik,yahg meliputi diksi, pengimajinasian, kata kongkrit, gaya bahasa (majas), versifikasi, dan tipografi. Hal ini juga dikatakan oleh Aminuddin, bahwa unsur lapis makna puisi sulit dipahami sebelum memahami bangun struktur terlebih dahulu. Adapun yang dimaksud dengan bangun struktur puisi yang menurut Aminuddin, 1987:136 meliputi (1) bunyi, (2) kata, seperti lambang, simbol, ulterance, dan gaya bahasa, (3) baris, (4) bait, dan (5) tipografi.dari uraian diatas dapat kita simpulkan gaya bahasa bila dihubungkan dengan upaya mengapresiasi puisi merupakan salah satu unsur bangun struktur (struktur fisik) puisi yang penting dan harus dipahami terlebih dahulu sebelum memahami lapis makna (struktur batin) puisi.
Lebih lanjut bila dihubungkan dengan keterampilan berbahasa pada umumnya, kemampuan memahami bahasa kias berperan menambah perbendaharaan kosa kata siswa. Keterampilan berbahasa tersebut meliputi (1) keterampilan menyimak, (2) keterampilan berbicara, (3) keterampilan membaca, dan (4) keterampilan menulis. Agaknya atas dasar pemikiran itulah, maka bahasan bahasa kias atau gaya bahasa pada umumnya, menjadi pokok bahasan kosa kata. Hingga di sini, bila kita lebih mendalam, ternyata pengajaran bahasa kias sebagai bagian dari gaya bahasa, memiliki dua manfaat. Manfaat pertama berhubungan dengan pengajaran kosa kata, yaitu menambah perbendaharaan kata siswa, dan manfaat kedua berhubungan dengan pengajaran apresiasi bahasa dan sastra Indonesia,yaitu membantu siswa dalam memahami bahasa puisi yang bersifat konotatif.
Bertolak dari pemikiran (1) gaya bahasa merupakan pembangun puisi yang penting,(2) bila dihubungkan dengan kegiatan apresiasi puisi, gaya bahasa merupakan pembangun puisi yang harus dipahami terlebih dahulu dan (3) pengajaran gaya bahasa membuahkan manfaat ganda, maka pada kesempatan ini peneliti bermaksud mengadakan penelitian tentang kemampuan memahami bahasa kias dalam puisi pada siswa kelas II SMA.
Penelitian yang berhubungan dengan masalah kemampuan memahami bahasa kias, walaupun belum banyak tetapi sudah pernah dilakukan.Beberapa penelitian yang pernah penulis ketahui adalah seperti dibawah ini.
(1) “Pelaksanaan Pengajaran Gaya Bahasa DI SPG Negeri Malang oleh Mahasiswa S-I 1976 JBSI FPBS IKIP Malang Tahun Akademik 1976/1977 “ oleh Sulastri (1979).
(2) “Tinjauan Pengajaran Gaya Bahasa dalam Hubungan dengan Apresiasi Sastra oleh Mahasiswa S-I 1978/1979” 0LEH wiwik widyayanti (1979).
(3) “Penelitian Kemampuan Menginterpresikan Makna puisi oleh Mahasiswa S-I 1981 JPBSI,FPBS IKIP Malang Tahun Akademik 1980/1981” oleh Aminuddin (1981).
Ketiga penelitian di atas, yang banyak memiliki kesamaan yaitu penelitian yang pertama yang dilakukan oleh Sulastri. Penelitian tersebut mengenai cara pelaksanaan pelajaran gaya bahasa yang di gunakan. Di samping memiliki kesamaan juga memiliki perbedaan, yaitu terletak pada populasi dan lingkup masalah.Penelitian di atas menggunakan populasi yang berbeda.
Dari telah penelitian-penelitian di atas diketahui bahwa belum ada penelitian secara khusus menggarap kemampuan memahami bahasa kias dalam puisipada siswa kelas II SMA.Bertolak dari kenyataan tersebut maka penelitian tentang kemampuan memahamibahasa kias dalam puisi pada siswa kelas II SMA perlu di adakan.
1.1 Masalah
1.2 .1 Rentangan Masalah
Penelitian ”Kemampuan Memahami Bahasa Kias dalam puisi pada siswa kelas II SMA PGRI 02 Talun Blitar Tahun Ajaran 1993/1994 ini berkaitan dengan berbagai macam aspek yang cukup luas, seperti yang akan di uraikan di bawah ini
Bahasa kias, sebagai bagian dari gaya bahasa dalam kurikulum SMA 1984 secara eksplisit masuk dalam pokok bahasan kosa kata, yaitu sub pokok bahasa 9.2 dan 17. 2 ( IDIOM, peribahasa, dan gaya bahasa). Sedangkan secara implicit masuk dalam pokok bahasa apresiasi bahasa dan sastra Indonesia, yaitu pada sub pokok bahasan 7.6 (unsur-unsur intrinsik dalam karya sastra). Sesuai dengan judul penelitian ini, yaitu kemampuan memahami bahasa kias dalam puisi, maka materi bahasa kias dalam penelitian ini hanya di kusiskan pada lingkup pokok bahasa Apresiasi Bahasan dan Sastra Indonesia.
Dalam kurikulum SMA 1984,di rumuskan bahwa tujuan pengajaran bahasa kias, sebagai bagian dari sub pokok bahasa unsur-unsur intrinsik dalam karya sastra,mencakup tiga aspek kemampuan, yaitu (1) mengenal, (2) memahami, dan (3) menghargai.Sehubungan dengan tujuan tersebut, Benyamin S. Bloom menjelaskan, bahwa tujuan penndidikan akan tergambar dalam tiga aspek, yaitu (1) aspek kognitif, yang menyangkut pengetahuan dan pengembangan intelek, (2) aspek efektif, yang menyangkut perubahan dan pengembangan sikap mental dan nilai, dan (3) aspek psikomotor, yang menyangkut wujud perilaku dan tindak perbuatan (dalam I Gusti Ngurah Oke, 1976:53 ). Uraian di atas menunjukan pada kita bahwa tujuan pengajaran bahasa kias, bila kita hubungkan dengan ketiga aspek kemampuan menurut bloom hanya mencakup dua aspek kemampuan saja, yaitu (1) aspek kognitif dan (2) aspek efektif. Hal ini dapat kita pahami karena tujuan akhir pengajaran sastra bukan ditekankan pada kemampuan mencipta ( kreatif ), tapi lebih di tekankan pada kemampuan mengapresiasi ( reseptif ), Akibat dari kenyataan ini, maka alat evaluasi yang kita gunakan untuk mengukur kecapaian tujuan pengajaran harus ditekankan dan sekaligus harus mampu mencerminkan kedua aspek kemampuan di atas .
Dilihat dari keberadaannya, bahasa kias dapat dikaji lewat puisi, prosa fiksi dan drama. Namun diantara ketiga bentuk di atas, yang lazimnya banyak menimbulkan kesulitan dalam upaya memahaminya adalah bahasa kias dalam puisi, karena penggunaan bahasa kias dalam puisi umumnya bersifat personal, sedangkan bahasa kias dalam prosa fiksi maupun dalam drama cenderung masih terikat erat dengan penggunaan bahasa dalam penggunaan sehari-hari. Bertolak dari pemikiran tersebut, maka kajian bahasa kias hanya dikhususkan pada puisi.
Dilihat dari wujudnya, bahasa kias meliputi berbagai jenis. Abram menyebutkan bahwa bahasa kias meliputi berbagai jenis yaitu simile, metafosa, epic simile simbol, metonimia, sinekdoke, perifrasis, personifikasi hiperbola, ironi, litotes, paradok, dan understatement. Selain Abram, keraf menyebutkan simile, metonimia, antonomasis, hipalase, ironi, sinisme,sarkasme, satire, innuendo, antifrasis, dan pun termasuk bahasa kias. Sedangkan Pradopo menyebutkan bahwa bahasa kias meliputi simile, metafosa, perumpamaan, epos allgori, personikasi, metonimia, dan sinekdoke. ( Abram, 1981:63:Keraf, 1986: 134-144 :Pradopo, 1987:61-87 ).
Ditinjau dari kajiannya, Aminuddin,1987:72 menjelaskan bahwa apabila kita berbicara bahasa kias, maka tidak terlepas dari pembicaraan tentang (1) hubungan bahasa kias dalam kandungan makna, (2) hubungan bahasa kias dengan seluk beluk ekpresi pengarang ( penyair )yang akan berhubungan erat dengan masalah individual pengarang ( penyair )maupun konteks sosial masyarakat yang melatar belakanginya, (3) hubungan bahasa kias dengan aspek keindahan, dan (4) hubungan bahasa kias dengan nuasa penuturan.
Ditinjau dari sasarannya, penelitian ini, sebenarnya dapat mengangkat siswa kelas I,II, dan III. Dalam hal ini peneliti menetapkan siswa kelas II sebagai sasaran penelitian ini. Penetapan siswa kelas II sebagai sasaran penelitian dilandasi pemikiran bahwa, (1) siswa kelas II dianggap telah menerima sajian materi pelajaran secara relative lengkap dan (2) dilihat dari kemampuannya dalam berfikir abstrak, siswa kelas II lebih layak diukur kemampuannya dalam memahami konotasi makna.


1.2.2 Pembatasan Masalah
Menyadari masalah dalam penelitian ini cukup luas apabila dikaji seluruhnya akan membutuhkan waktu yang panjang, selain itu, tidak semua jenis bahasa kias tersebut diatas muncul dalam puisi, kalaupun ada akan membutuhkan jumblah puisi banyak sebagai bahan tes, maka atas dasar pertimbangan tersebut, penelitian kemampuan memahami bahasa kias pada siswa kelas II PGRI Talun Blitar ini dibatasi pada jenis-jenis bahasa kias sebagai berikut: (1) metafosa, (2) simile, (3) personifakasi, (4) metonimia, dan (5) sinekdoke.
1.2.3 Rumusan masalah
Masalah dalam penelitian ini, dirumuskan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut:
(1) Bagaimanakah kemampuan siswa kelas II SMA PGRI Talun tahun ajaran 1993/1994 dalam memahami pengertian bahasa kias metafosa?
(2) Bagaimanakah kemampuan siswa kelas II SMA PGRI Talun tahun ajaran 1993/1994 dalam memahami pengertian bahasa kias simile ?
(3) Bagaimanakah kemampuan siswa kelas II SMA PGRI Talun tahun ajaran 1993/1994 dalam memahami pengertian bahasa kias personifikasi ?
(4) Bagaimanakah kemampuan siswa kelas II SMA PGRI Talun tahun ajaran 1993/1994 dalam memahami pengertian bahasa kias metonimia ?
(5) Bagaimanakah kemampuan siswa kelas II SMA PGRI Talun tahun ajaran 1993/1994 dalam memahami pengertian bahasa kias sinekdoke ?

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Secara umum penelitian yang berjudul” Kemampuan Memahami Bahasa Kias dalam puisi Pada Siswa Kelas II SMA PGRI Talun tahun ajaran 1993/1994bertujuan untuk memperoleh gambaran objektif tentang siswa kelas II SMA PGRI Talun tahun 1993/1994 dalam memahami bahasa kias dalam puisi.
1.3.1 Tujuan Khusus
Secara khusus penelitian ini, bertujuan untuk memperoleh tujuan deskriptif tentang:
(1) Kemampuan memahami pengertian bahasa kias metafosa siswa kelas II SMA PGRI Talun tahun ajaran 1993/1994;
(2) Kemampuan memahami pengertian bahasa kias simile siswa kelas II SMA PGRI Talun tahun ajaran 1993/1994;
(3) Kemampuan memahami pengertian bahasa kias personifikasi siswa kelas II SMA PGRI Talun tahun ajaran 1993/1994;
(4) Kemampuan memahami pengertian bahasa kias metonimia siswa kelas II SMA PGRI Talun tahun ajaran 1993/1994;
(5) Kemampuan memahami pengertian bahasa kias sinekdoke siswa kelas II SMA PGRI Talun tahun ajaran 1993/1994;

1.4 Hasil Yang Diharapkan
Hasil yang diharapkan dalam penelitian ini, berupa naskah laporan dalam bentuk skripsi yang berisi deskripsi tentang kemampuan memahami makna kias puisi siswa kelas IISMA PGRI Talun tahun ajaran 1993/1994.
Isi skripsi tersebut merupakan pemerian tentang:
(1) Kemampuan memahami pengertian bahasa kias metafosa siswa kelas II SMA PGRI Talun tahun ajaran 1993/1994.
(2) Kemampuan memahami pengertian bahasa kias simile siswa kelas II SMA PGRI Talun tahun ajaran 1993/1994.
(3) Kemampuan memahami pengertian bahasa kias personifikasi siswa kelas II SMA PGRI Talun tahun ajaran 1993/1994.
(4) Kemampuan memahami pengertian bahasa kias metonimia siswa kelas II SMA PGRI Talun tahun ajaran 1993/1994.
(5) Kemampuan memahami pengertian bahasa kias sinekdoks siswa kelas II SMA PGRI Talun tahun ajaran 1993/1994.

1.4 Hasil Yang Diharapkan
Hasil yang diharapkan dalam penelitian ini, berupa naskah laporan dalam bentuk skripsi yang berisi deskripsi tentang kemampuan memahami makna kias puisi siswa kelas II SMA PGRI Talun tahun ajaran 1993/1994.
Isi skripsi tersebut merupakan pemerian tentang:
(1) Kemampuan memahami pengertian bahasa kias metafosa siswa kelas II SMA PGRI Talun tahun ajaran 1993/1994.
(2) Kemampuan memahami pengertian bahasa kias simile siswa kelas II SMA PGRI Talun tahunajaran 1993/1994.
(3) Kemampuan memahami pengertian bahasa kias personifikasi siswa kelas II SMA PGRI Talun tahun ajaran 1993/1994.
(4) Kemampuan memahami pengertian bahasa kias metoninia siswa kelas II SMA PGRI Talun tahun ajaran 1993/1994.
(5) Kemampuan memahami pengertian bahasa kias sinekdoks siswa kelas II SMA PGRI Talun tahun ajaran 1993/1994.

1.5 Asumsi Hipotesis
1.5.1 Asumsi
Sejumlah asumsi yang digunakan dalam penelitian ini, adalah:
(1) Siswa kelas II SMA PGRI Talun telah memperoleh pelajaran apresiasi sastra, dalam hal ini menyangkut penahaman makna kias dalam puisi.
(2) Siswa kelas II SMA PGRI Talun telah memperoleh pelajaran apresiasi sesuai dengan butir-butirpokok bahasan yang tertuang dalam GBPP Kurikulum SMA 1984mata pelajaran bahasa Indonesia.
(3) Guru Bahasa Indonesia di SMA PGRI Talun dalam pelajaran selalu menyesuaikan diri dengan Kurikulum 1984.
1.5.2 Hipotesis
1.5.2.1 Rumusan Hipotesis
Sebagai pengarah dan pegangan dalam penelitian ini ditetapkan sejumlah hipotesis, Hipotesis yang dimaksud adalah sebagai berikut:
(1) Siswa kelas II SMA PGRI Talun tahun ajaran 1994/1995 mampu memahami pengertian bahasa kias metofosa dalam puisi.
(2) Siswa kelas II SMA PGRI Talun tahun ajaran 1994/1995 mampu memahami pengertian bahasa kias simile dalam puisi.
(3) Siswa kelas II SMA PGRI Talun tahun ajaran 1994/1995 mampu memahami pengertian bahasa kias personifikasi dalam puisi.
(4) Siswa kelas II SMA PGRI Talun tahun ajaran 1994/1995 mampu memahami pengertian bahasa kias metonimia dalam puisi.
(5) Siswa kelas II SMA PGRI Talun tahun ajaran 1994/1995 mampu memahami pengertian bahasa kias sinekdoke dalam puisi.

1.5.2.2 Kriteria Pengujian Hipotesis
Kelima hipotesis pada butir 1.5.2.1 dinyatakan benar jika sama atau lebih dari 75% siswa sampel mendapat nilai 75 (tujuh puluh lima ) berdasarkan pengolahan data skor mentah instrument pengukurannya.
1.6 Penegasan istilah
Dalam penelitian ini digunakan seperangkat istilah untuk mengoperasionalkan rumusan masalah yang telah ditetapkan. Adapun istilah yang di maksud dapat diuraikan sebagai berikut:
(1) kemampuan
Kemampuan adalah tingkat pengetahuan dan ketrampilan sesuai dengan pengalaman belajar yang di miliki siswa dalam memberikan pengertian secara definisi, kesan dan makna suatu objek,dalam hal ini adalah bahasa kas.
(2) Memahami
mamahami adalah tingkat pengetahuan dan ketrampilansesuai dengan pengalaman belajar yang dimiliki siswa dalam memahami secara definisi.Memberikan contoh, mengklasifikasikan, menafsirkan kesan dan makna suatu objek, dalam hal ini adalah bahasa kias.
(3) Bahasa kias
Bahasa kias adalah wujud penggunaan bahasa yang memiliki ciri tertentu, yaitu (1) ditinjau dari bentuknya dapat berupa satuan pengajaran bahasa yang mengandung unit pengertian tertentu, (2) ditinjau dari ciri pengertian tertentu, tidak lagi bersifat denotative, (3) ditinjau dari jenisnya dapat meliputi metafosa, simile, personifikasi, metonimia, dan sebagainya
(4) Metafosa
Metafosa adalah penggunaan kata-kata yang bermakna literalnya secara implicit diacukan pada pengertian lain melalui perbandingan sesuai dengan terdapatnya kesejajaran sejumlah ciri, kuatitas, maupun lakuan dari unsure-unsuryang diperbandingkan. Contoh; Bumi ini perempuan jalang.
(5) Simile
Simile adalah perbandingan dua unsure yang pada dasarnya memiliki acuan berbeda dengan menggunakan bentuk perbandingan misalnya; Kau menjelma secantik juwita, tapi terkulai bagai dikuya.
(6) personifikasi
Personifikasi adalah pemberian ciri insani pada sesuatu yang tidak bernyawa maupun terhadap konsep tertentu yang bersifat abstrak. Misalnya; Ajal bertahta, sambil berkata :”Kerinduanitu terus memanggil.”
(7) metonimia
Metonimia adalah perwakilan simbul lain, sehingga B misalnya, dapat mewakili simbol A sesuai dengan pengertian yang dikandung simbol A. misalnya: Dalam ferymelancar ke tanah jawa.
(8) Sinekdoke
Sinekdoke adalah penampilan bagian sebagai wakil keseluruhan, atau sebaliknya penampilan keseluruhan sebagai wakil dari bagian sesuai dengan terdapatnya ciri tautan sifat maupun kualitasnya. Misalnya: (1) Kusediakan berbakti, dan (2) Bumi ini perempuan jalang.
(9) Puisi
Puisi adalah salah satu genre sastra yang menggunakan bahasa sebagai medianya. Berbeda dengan bahasa sehari-hari, bahasa dalam puisi bersifat konotatif.































BAB II

2.1 Tinjauan Pustaka
Tinjauan Pustaka yang dimaksudkan peneliti adalah teori-teori yang berkaitan dengan permasalahan secara umun. Tinjauan pustaka ini digunakan sebagai landasan dalam rangka mengarahkan pembahasan masalah sesuai dengan masalah dan tujuan penelitian yang ditetapkan, tinjauan pustaka ini terdiri atas:
(1) Bahasa kias dalam puisi,
(2) Pemahaman makna kias dalam puisi,
(3) Pengertian bahasa kias metafosa,
(4) Pengertian bahasa kias simile,
(5) Pengertian bahasa kias personifikasi,
(6) Pengertian bahasa kias metonimia,
(7) Pengertian bahasa kias sinekdoke,
Masing-masing bagian diuraikan di bawah ini.

2.1.1 bahasa Kias Dalam puisi
Bahasa kias disebut juga dengan majas. Berkaitan dengan hal ini, Dale menyatakan bahwa yang dimaksuddengan bahasa kias adalah bahasa indah yang dipergunakan untuk meningkatkan efek dengan jalan memperkenalkan serta membandingkan suatu benda atau hal tertentu dengan benda atau hal lain yang lebih umum, pendek kata penggunaan majas tertentu dapat mengubah serta menimbulkan konotasi tertentu ( dale (et al) ;1977:602).berhubungan dengan uraian di atas warriner dalam bukunya yang berjudul Aduanced composition: AL BOOK OF Models for Writing, Dale menjabarkan dan kemudian mengatakan bahwa majas atau figurative language adalah bahasa yang dipergunakan secara imajinatif, bukan dalam pengertian yang benar-benar secara alamiah saja (Warriner ( et al ) 1977:602 ).
Berdasarkan uraian di atas Aminuddin dalam bukunya yang berjudul sekitar Masalah sastra mengatakan bahwa, bahasa kias dalam puisi adalah unit struktur bahasa yang dibentuk oleh adanya satuan hubungan kata-kata yang difungsikan untuk menyampaikan gagasan secara tak langsung, menciptakan suasana, serta mencapai nilai keindahan tertentu. Berdasarkan konstruk di atas, dapat diketahui bahwa bahasa kias dalam puisi memiliki dimensi (1) penutur sebagai penyampai gagasan melalui peranan bahasa, (2) satuan hubungan kata-kata yang memiliki unsur dan relasi tertentu, (3) satuanmakna yang berkaitan dengan gagasan serta gambaran suasana tertentu, (4) relasi unit struktur bahasa kias dengan unsur-unsur lain dalam satuan teksnya, (5) nilai keindahan, dan (6) penanggap sebagai pemberi makna sejalan dengan gagasan yang ingin disampaikan penutur serta efek keindahan yang ingin dicapainya ( Aminuddin, 1990:73).
Ditinjau dari konteks kewacanaannya, bahasa kias dalam puisi
(1) merupakan gejala yang memiliki nilai keindahan tertentu karena puisi merupakan salah satu jenis kreasi seni sasrta,
(2) difungsikan untuk menyampaikan gagasan secara tidak langsung, sehingga selain memiliki “informasi natural “ juga mengandung ide tersirat,
(3) secara renferensial berkaitan dengan dunia acuan maupun pemberian konsep sesuai dengan konfansi masyarakat bahasanya, serta
(4) pemberian maknanya sangat ditentukan oleh dunia penanggap sesuai dasar pengalaman maupun pengetahuan yang di miliki ( Aminuddin, 1990:78).
Lebih lanjut bahwa nilai keindahan yang terdapat dalam bahasa kias menurut Aminuddin dalam bukunya yang berjudul Pengantar Apresiasi Sastra bukan ditentukan oleh ciri gejala yang ada dalam bahasa kias itu sendiri melainkan hadir bersama totalitas teksnya ( Aminuddin, 1987:27). Nilai keindahan bahasa kias dalam totalitas teksnya dapat meliputi
(1) kekhasan ciri ekpresi,
(2) peranan dalam membangun keindahan unsur lain misalnya dalam menciptakan ritme melalui diksi,
(3) kekayaan nuansa maknanya,
(4) relasi dan ketinggian nilai idiosinkrasinya,serta
(5) kejelasan motifasinya penutur sejalan dengan terdapatnya penyimpanan dan kebaruan yang ditampilkan penutur (Aminuddin, 1990:78).
Bertolak dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud bahasa kias dalam puisi adalah bahasa yang indah, dan dipergunakan secara imajinatif, bukan dalam pengertian yang benar-benar secara alamiah saja.

2.1.2 Pemahaman Makna kias Dalam puisi
Teauw dalam buku yang berjudul Sastra dan Ilmu Sastra mengatakan bahwa bahasa sastra adalah bahasa yang khas sudah luas tersebar, khususnya puisi sudah umum menunjukan pemakaian bahasa yang special, yang hanya dimanfaatkan oleh penyair, pemakaian bahasa itu dianggap menyimpang dari bahasa sehari-haridan bahasa yang normal ( Teew, 1988:70).Uraian tersebut menunjukan bahwa untuk memahami makna yang terkandung dari sebuah puisi tidak mudah, karena bahasa kias dalam puisi tidak sama dengan bahasa sehari-hari. Hal ini seperti yang dikatakan oleh keraf, dalam bukunya yang berjudul Diksi Dalam Gaaya Bahasa, bahwa bahasa kias adalah suatu penyimpanan bahasa, terutama dibidang makna, secara evaluatifatau emotif untuk memperoleh kejelasan, penekanan, atau suatu efek yang lain (keraf,1986:129).Sedangkan menurut Akhmadi dalam bukunya yang berjudul Merasakan dan Menilai Gaya bahasa Karangan Siswa Sekolah Dasar dan Menengah mengatakan, bahasa kias mengoperasionalkan kata-kata bernilai konotatif yang membentuk asosiasi pikiran atau mental (Akhmadi,1984:12).
Sehubungan dengan bahasa kias tersebut, Barthes dalam bukunya yang berjudul Semiotic An Introductory Anthology, mengatakan, bahasa kias adalah wujud penggunaan bahasa yang mampu mengepresikan makna dasar ke asosiasi pengertian lain secara imajinatif. Melalui bahasa kias tersebut, pengarang (penyair) menampilkan gagasan atau pesan melalui penggabaran dunia tertentu secara imajinatif, sehingga masalah dasar yang dihadapi oleh pembaca pada saat memahami pengertian yang terkandung dalam bahasa kias tersebut, adalah bagaimana pembaca menyusun gambaran dunia yang ditampilkan pengarang dengan bertolak dari makna literalnya, kemudian menghubungkan, menafsirkan, dan menyimpulkan pengertian yang tersirat didalamnya. Makna literal dalam sesuatu paparan sastra (puisi), misalnya dalam bahasa kias, tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan sebagai aspek yang menuntut adanya kemampuan menggambarkan berbagai nuansa makna yang ada didalamnya, menghubungkan gambaran makna itu dengan keseluruan satuan teksnya, menentukan gambaran yang siknifikan dan tidak disignifikan, kemudian berusaha menangkap makna konotatif yang tertampil secara tersurat (Barthes,1985:191).
Sehubungan dengan makna konotatif tersebut, lebih lanjut Barthes mengungkapkan Message Without a code yaitu berbagai gambaran makna yang apabila ditinjau dari code bahasanya, tampil dalam bentuk paparan yang berbeda dengan makna tersuratnya. Dalam Bahasa Indonesia, misalnya pengertian “Tuhan itu maha penerang”dalam paparan puisi diungkapkan secara demikian, tetapi dinyatakan dengan bentuk “Kaulah Kandil Kemerlap”. Untuk menangkap gambaran atau pesan yang tersirat itu ada tiga tahapan yang harus ditempuholeh pembaca, yaitu
(1) menggambarkan kembali objek atau gambaran dunia tertentu, yang terpapar melalui wujud penggunaan bahasa,
(2) menentukan unsur signifikan dan tidak signifikan, dalam hal ini berkaitan dengan pertanyaan:mana kira-kira ciri gambaran tertentu yang secara signifikan berkaitan dengan yang ingin disampaikan oleh penyairnya, jadi bukan berkaitan dengan apa yang seharusnya digambarkan,dan
(3) menyusun kembali berbagai hasil penggambaran yang signifikan, menafsirkan isi pengertian yang terkandung di dalamnya, dengan menghubungkan cirri dunia yang digambarkan dengan aspek sosial budaya yang melatar belakanginya (Barthes,1985:119).
Pernyataan barthes di atas, selaras dengan wawasan Susanne K. Langer dalam bukunya yang berjudul:”Discursive and Presentational Froom dalam Innis (ed) Semiotic ad Introductory Anthology mengatakan (1) bahasa berperan dalam bentuk dunia pengalaman manusia, (2) pengalaman dibentuk melalui pengamatan dunia acuan dalam berbagai label, (3) hasil pengamatan pemahaman terhadap cori acuan, selalu merujuk pada sesuatu yang lain, dan terwakili dalam label yang lain pula. Seseorang dapat menggambarkan dan memahami karena ungkapan dalam wahana yang “Syah”, yaitu bahasa, (4) pengertian kata merujuk pada kata lain, tapi antara masing-masing tidak identik. Kursi, misalnya, merujuk pada pengertian ‘tempat duduk’ tetapi tempat duduk tidak harus kursi.Konteks kebahasaan sangat menentukan, dan butir-butir pengalaman terpisah-pisah, untuk menjadi pengertian harus ada proyeksi, persepsi, abstraksi (Langer, 1985:91-106).
Selaras dengan pernyataan bahwa untuk memahami paparan bahasa, misalnya bahasa kias dalam puisi, seseorang harus mampu mengimajinasikan dunia yang secara tidak langsung tergambardi dalamnya.Hal ini berkaitan dengan pernyataan Aminuddin dalam bukunya apresiasi puisi, bahwa makna yang tersirat dari sebuah ada 2 macam, yaitu makna kias (konotatif) dan makna keseluruhan (makna utuh). Yang paling penting dalam sebuah puisi ialah makna utuh taitu apa yang dimaksudkan oleh keseluruhan puisi itu.Hal ini didasarkan atas prinsip bahwa sebuah puisi itu adalah mengandung satu keseluruhan yang bulat (an unified whole) makna keseluruhan sebuah puisi itu sebagai akibat pengungkapan diksi (imaji, kias, lugas, simbolik), bunyi, di samping bentuk penyajiannya (Orthografi dankorespondensi atau enjabemen). (Antara, 1985:22).
Bertolak dari uraian di atas, dapat diambil kesimpulan, bahwa untuk memahami bahasa kias dalam puisi, seseorang pembaca pertama kali harus (2) memahami literalnya, (2) mengadakan proyeksi atau memahami dunia yang digambarkan pengarang secara imajinatif, (3) menyusun hasil penggambaran itu menjadi satuan-satuan yang secara potensial mampu menggambarkan pengertian tertentu, dan (4) mengadakan abstraksi dengan jalan menghubungkan hasil persepsi dengan dunia pengetahuan, pengalaman, aspek social budaya, kemudian menarik kesimpulan sejalan dengan pesan yang ingin disampaikan, atau pertama-tama pembaca harus mampu mengadakan (menggambarkan). Dari hasil proyeksi tersebut, pembaca lebih lanjut mengadakan presepsi, yaitu pembentukan ulang hasil penggambaran hingga menjadi satuan-satuan tertentu, yang secara potensial mampu membuahkan pengertian-pengertian tertentu pula. Pengertian yang diperoleh melalui persepsi sifatnya baru pembukaan. Untuk menangkap pengertian yang sebenarnya pembaca harus mengadakan Abstraksi, yaitu mengupas kulitnya, yaitu makna tersuratnya, untuk kemudian mengambil isinya, yaitu makna yang tersirat.
2.1.3 Pengertian Bahasa Kias Metafosa
Gaya bahasa adalah bahasa indah yang dipergunakan untuk meningkatkan suatu benda atau hal tertentu dengan jalan memperkenalkan serta memperbandingkan suatu benda atau hal tertentu dengan benda atau hal lain yang lebih umum. Pendek kata penggunaan gaya bahasa tertentu dapat mengubah serta menimbulkan konotasi tertentu (Dale (at al) , 1971:220). Sedangkan keraf menggunakan gaya bahasa adalah cara menggungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa). Sebuah bahasa yang baik harus mengandung tiga unsur berikut : kejujuran, sopan santun, menarik (keraf, 1985:113).
Gaya bahasa meliputi berbagai jenis, salah satu diantaranya adalah metafosa. Berikut ini akan diuraikan pengertian metafora dari beberapa ahli, diantaranya ialah :
(1) Guntur Tarigan
Dalam bukunya yang berjudul Pengajaran Gaya Bahasa, metafora berasal dari bahasa Yunani ‘metaphora’yang berarti ‘memindahkan’. Metafora merupakan sejenis gaya bahasa perbandingan yang paling singkat, padat ,tersusun rapi.Didalamnya terlihat dua gagasan,yang satu adalah kenyataan,sesuatu yang dipikirkan,yang menjadi objek,dan suatu hal lagi merupakan perbandingan terhadap kenyataan tadi,dan mengantikan yang belakangan itu menjadi terdahulu tadi( Tarigan. 1985: 15).Dari uraian di atas dapat dipahami,bahwa metafora terdapat dua gagasan yang saling mengantikan .
(2) Aminuddin
Dalam bukunya yang berjudul Pengantar Apresiasi Sastra mengungkapkan bahwa ‘metafor’adalah penggungkapan yang mengandung makna yang tersirat untuk menggungkapkan acuan makna sebenarnya ,misalnya,”cemarapun gugur daun “menggungkapkan makna “ketidakabadian kehidupan “ dan Aminuddin mengatakan bahwa metaphor adalah penggunaan kata-kata yang makna literalnya secara implisit diacukan pada pengertian lain melalui perbandingan sesuai dengan terdapatnya kesejajaran sejumlah ciri, kualitas, maupun lakuan dari unsur-unsur yang diperbandingkan (Aminuddin, 1987 : 143, 1990 : 77).
3) Gorys Keraf
Dalam bukunya yang berjudul Diksi dan Gaya Bahasa mengatakan bahwa metafora adakah semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung, tidak menggunakan tanda seperti, serupa, bagaikan, dan sejenisnya, tapi dalam bentuk yang singkat (Keraf, 1984 : 139).
4) Mukhsin Ahmadi
Dalam bukunya yang berjudul Merasakan dan Menilai Karangan Siswa Sekolah Dasar dan Menengah mengatakan bahwa ‘metafora’ adalah induk gaya perasosiasian atau kiasan yang digunakan untuk menyatakan sesuatu hal atau peristiwa tidak secara literal, tapi dengan menggunakan perbandingan secara langsung (Akhmadi, 1984 : 14).
5) Anton Moelino
Dalam bukunya yang berjudul Diksi dan Pilihan Kata, Moelino mengatakan ‘Metafora’ ialah perbandingan yang implisit. Jadi tanpa kata seperti atau sebagai diantara dua hal yang berbeda (Moelino, 1984 : 3).
6) Poerwadarminta
Dalam bukunya yang berjudul Kamus Umum Bahasa Indonesia, Poerwadarminta mengatakan ‘metafora’ adalah pemakaian kata-kata bukan arti yang sebenarnya, melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan (Poerwadarminta, 1976 : 648).
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan bahasa kias metafora ialah jenis bahasa kias yang membandingkan dua atau wujud yang sebenarnya tapi dipersamakan sifatnya secara langsung. Lebih jelasnya diberikan contoh kutipan puisi ‘Chairil Anwar’ yang berjudul ‘AKU’.
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Contoh di atas, yang menunjukkan bahasa kias metafora adalah ‘Aku ini binatang jalang’. ‘AKU’ memiliki sifat seperti binatang jalang, dalam hal ini, secara terselubung mengiaskan adanya berbagai sifat atau ciri yang dimiliki oleh ‘aku’. Dan uraian di atas dapat diketahui bahwa dalam metafora perbandingan itu dilakukan secara langsung, tanpa menggunakan kata-kata seperti ibarat, bak, sebagai, impama laksana, serupa, dan lain sebagainya.
2. 1. 4 Pengertian Bahasa Kias Simile
Seperti yang telah diuraikan dimuka, bahwa gaya bahasa terdiri dari berbagai jenis, yang akan dibahas pada bagian ini adalah bahasa kias simila. Berikut ini beberapa ahli antara lain ialah:
1) Aminuddin
Dalam bukunya yang berjudul Sekitar Masalah Sastra mengatakan bahwa ‘simile’ adalah perbandingan antara dua unsur yang pada dasarnya memiliki cirri acuan berbeda dengan menggunakan bentuk perbandingan misalnya, seperti, bagaikan (Aminuddin, 1990 : 77).
2) Guntur Tarigan
Dalam bukunya yang berjudul Pengantar Gaya Bahasa Tarigan mengatakan bahwa ‘Simile’ adalah nama lain dari perumpamaan. Simile berasal dari bahasa latin ‘simile’ yang berarti ‘seperti’. Sama dengan metafora, simile juga membandingkan dua hal yang pada hakekatnya berlainan, namun sengaja dianggap sama, namun dalam simile perbandingan itu dilakukan secara tidak langsung, yaitu dengan melalui kata hubung: seperti, serupa, laksana, bagaikan, dan sebaginya (Tarigan, 1985: 9-10). Lebih jelasnya digunakan diagram seperti di bawah ini:







3) Soe djito, Keraf, dan Pradopo
Ketiga orang ahli tersebut, mempunyai pendapat yang sama, bahwa simile adalah bahasa kias yang membandingkan dua hal yang secara hakiki berbeda, tapi dipersamakan dengan mempergunakan kata-kata pembanding seperti, serupa, bagaikan, bak, dan sejenisnya (Soedjito 1986: Keraf, 1986: Pradopo : 1987).
Bertolak dari berbagai pendapat di atas, maka dapat disimpulkan, bahwa simile adalah jenis bahasa kias yang membandingkan dua hal atau wujud yang sebenarnya berbeda, tapi dipersamakan tidak langsung, dengan menggunakan tanda hubung seperti, serupa, bagaikan, sebagaimana, laksana, seumpama, dan sejenisnya. Lebih jelasnya diberikan contoh kutipan puisi ‘Chairil Anwar’ yang berjudul ‘PENERIMAAN’.
Ku tahu bukan yang dulu lagi
Bak kembang sudah terbagi
perbandingan dalam puisi di atas, dilakukan secara tidak langsung. Disebut demikian, karena menggunakan tanda penghubung bak. Oleh sebab itu berbeda dengan ‘metafora’ yang perbandingannya dilakukan secara terselubung atau langsung. Di dalam bahasa kais ‘simile’ ini, unsur yang diperbandingkan dilakukan secara jelas. Misalnya ‘Kau’ dalam hal ini adalah seorang wanita yang diperbandingkan dengan ‘Kembang’ yang memiliki salah satu cirri, misalnya Keindahan, yang dapat disejajarkan dengan kecantikan wanita.
2. 1. 5 Pengertian Bahasa Kias Personifikasi
Berdasarkan uraian tentang jenis gaya bahasa di muka, masih ada gaya bahasa yang akan di bahas, yaitu personifikasi. Pengertian tentang bahasa kias personifikasi akan diuraikan di bawah ini, menurut beberapa ahli, antara lain sebagai berikut :
1) Aminuddin
Dalam bukunya yang berjudul Sekitar Masalah Sastra, Aminuddin mengatakan, bahwa personifikasi adalah pemberian ciri ansani pada sesuatu yang bersifat abstrak (Aminuddin, 1990 : 77).
2) Dale dalam Tarigan
Dalam bukunya Tarigan yang berjudul Pengajaran Gaya Bahasa, personifikasi berasal dari bahasa latin ‘persona’ (orang, pelaku, aktor, atau topeng yang dipakai dalam drama) ‘fic’ (membuat). Dalam sastra, personifikasi adalah bahasa kias yang memberikan ciri ciri atau kualitas, yaitu kualitas pribadi orang kepada benda0benda yang tidak bernyawa ataupun kepada gagasan-gagasan (Dale, dalam Tarigan, 1985 : 17).
3) Pradopo
Dalam bukunya yang berjudul Pengkaji Puisi, Pradopo mengatakan bahwa personifikasi sebagai jenis bahasa kias yang mempersamakan benda dengan manusia, benda-benda mati dapat berbuat, berpikir, dan sebagainya seperti manusia. Lebih lanjut dikatakan bahwa personifikasi ini membuat hidup lukisan, di samping itu memberikan kejelasan beberan, memberikan bayangan angan yang konkrit (Pradopo, 1987 : 75).
4) Anton. M
Dalam bukunya yang berjudul Diksi dan Pilihan Kata, Moelino mengatakan, bahwa personifikasi ialah jenis majas yang meletakkan sifat-sifat lisan kepada barang yang tidak bernyawa dan ide yang abstrak (Moelino, 1984 : 3)
5) Pendapat Beberapa Ahli Lainnya
Selain pendapat-pendapat di atas, ada beberapa ahli yang mengungkapkan pengertian personifikasi mengandung pengertian jenis bahasa kias yang memberi sifat-sifat manusia kepada benda-benda tidak bernyawa atau barang-barang mati (Sujiman, 1986 : Soedjito, 1986 : Keraf, 1986 : Akhmadi, 1984 : Waluyo, 1987).
Dari beberapa pendapat di atas, akhirnya dapat disimpulkan, bahwa personifikasi adalah jenis bahasa kias yang melukiskan benda-benda mati atau tak bernyawa seolah-olah memiliki sifat manusia. Lebih jelasnya diberikan contoh puisi ‘Yudisthira’ yang berjudul ‘Balada Wagiman Sekeluarga’.
Delapan tahun ia tak pulang
Kerinduan itu terus memanggil
Pada desa yang terpaksa ia tinggalkan
Karena tak memberi lagi harapan
Contoh puisi di atas, yang berbunyi ‘Kerinduan it uterus memanggil’ menunjukkan contoh bahasa kias personifikasi. Kerinduan dalam puisi tersebut, di beri sifat seperti manusiayaitu memanggil.
2. 1. 6 Pengertian Bahasa Kias Metonimi
Bahasa kias selanjutnya adalah metonimia, berikut ini akan diuraikan tentang pengertian metonimia oleh para ahli, antara lain :
1) Aminuddin
Dalam bukunya yang berjudul Sekitar Masalah Sastra, mengungkapkan bahwa metonimia adalah perwakilan symbol lain, sehingga B misalnya, dapat mewakili simbol A sesuai dengan pengertian yang dikandung simbol (Aminuddin, 1990 : 77).
2) Dale, dalam Tarigan
Dalam bukunya yang berjudul Pengajaran Gaya Bahasa, Dale dalam Tarigan mengatakan bahwa, metonimia (berasal dari bahasa Yunani meta, ‘bertukar’ + onym ‘nama’) adalah sejenis gaya bahasa yang mempergunakan nama sesuatu barang bagi sesuatu lain berkaitan erat dengannya. Dalam metonimia sesuatu barang disebutkan tetapi yang dimaksud barang yang lain (Dale, dalam Tarigan, 1985, 192).
3) Anton Moelino
Dalam bukunya yang berjudul Diksi atau Pilihan Kata, metonimia adalah majas yang memakai nama ciri atau nama hal yang dikaitkan dengan nama orang, barang, atau hal, sebagai penggantinya. Kita dapat menyebut pencipta atau pembuatnya jika yang kita maksudkan barangnya (Moelino, 1984 : 3).
Bertolak dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan, bahwa yang dimaksud dengan metonimia ialah jenis bahasa kias yang menggunakan nama atau atribut untuk menyatakan suatu hal lain, karena memiliki pertalian yang sangat dekat. Lebih jelasnya diberikan contoh puisi ‘Chairil Anwar’ yang berjudul ‘Diponegoro’
Di masa pembangunan ini
Tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak getar. Lawan banyak seratus kali
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselubung semangat yang tak bias mati.
Kutipan puisi di atas, yang menunjukkan bahasa kias ‘metonimia’ adalah ‘pedang di kanan, keris di kiri’. Sebutan pedang secara tidak langsung, melambangkan tentang perjuangan. Sebutan perjuangan, yang lazimnya identik atau memiliki hubungan yang sangat dekat dengan perang, mengandung unsur tertentu yakni penggunaan senjata dalam hal ini adalah pedang.
2. 1. 7 Pengertian Bahasa Kias Sinedoke
Gaya bahasa yang akan dibahas selanjutnya adalah sinedoke, berikut ini beberapa pengertian sinedoke menurut para ahli antara lain :
1) Anton Moelino
Dalam bukunya yang berjudul Diksi dan Pilihan Kata, mengatakan bahwa sinedoke adalah majas yang menyebutkan nama bagian sebagai pengganti nama keseluruhan atau sebaliknya (Moelino, 1984 : 3).
2) Akhmadi
Dalam bukunya yang berjudul Merasakan dan Menilai Gaya Bahasa Karangan Siswa Sekolah Dasar dan Menengah, ia mengatakan bahwa dalam sinedoke, terdiri dari dua jenis, yaitu (1) pars pro toto dan (2) totem pro parte. Pars pro toto menurut Akhmadi, adalah bahasa kiasan yang melukiskan sesuatu peristiwa dengan menyebutkan suatu bagian, sedang totem proparte, adalah bahasa kiasan yang melukiskan suatu peristiwa dengan menyebutkan keseluruhan bagian, sedang yang dimaksud adalah sebagiannya (Akhmadi, 1984 : 15).
3) Aminuddin
Dalam bukunya yang berjudul Sekitar Masalah Sastra ia mengatakan, bahwa sinedoke adalah penampilan bagian sebagai wakil dari keseluruhan, atau sebaliknya penampilan keseluruhan sebagai wakil dari bagian sesuai dengan terdapatnya ciri tautan sifat maupun kualitasnya (Aminuddin, 1990 : 77).
4) Dale
Dalam bukunya yang berjudul Technignes Of Teacnis vocabulary, ia mengatakan, bahwa sinedoke berasal dari bahasa ‘Yunani’ Synnedecbesthai (syn ‘dengan’ + ex ‘keluar’ + Dechesthai ‘mengambil, menerima’) yang secara alamiah berarti menyediakan atau memberikan sesuatu kepada apa yang baru disebutkan. Dengan perkataan lain, sinedoke adalah gaya bahasa yang menyatakan sebagian untuk mengganti keseluruhan (Dale (at al), 1971 : 236).
5) Gorys Keraf
Dalam bukunya yang berjudul Diksi dan Gaya Bahasa ia menyatakan bahwa sinedoke adalah suatu istilah yang diturunkan dari kata ‘Yunani’ Synekdechesthai, yang berarti menerima bersama-sama. Sinedoke merupakan bahasa kias yang mempergunakan sebagian dari suatu hal untuk menyatakan keseluruhan (pars pro toto) atau menggunakan keseluruhan hal untuk menyatakan sebagian (totem pro parte) (Keraf, 1986 : 142).
Bertolak dari berbagai pendapat di atas, maka dapat disimpulkan, bahwa yang dimaksud dengan bahasa kias sinedoke terdiri dari dua macam, yaitu pars pro too dan totem pro parte. Pars pro toto berarti jenis bahasa kias yang menggunakan sebagian dari suatu hal atau wujud untuk menyatakan keseluruhan hal atau wujud yang dimaksud. Lebih jelasnya diberikan contoh kutipan puisi ‘Rendra’ yang berjudul ‘DOA ORANG LAPAR’
O ALLAH
Kami berlutut
Mata kami adlah mata-Mu
Ini juga mulut-Mu
Ini juga hati-Mu
Ini juga perut-Mu
Sedangkan yang dimaksud dengan totem pro parte adalah jenis bahasa kias yang menggunakan keseluruhan hal atau wujud menyatakan sebagian dari suatu hal atau wujud yang dimaksud. Lebih jelasnya diberikan contoh kutipan puisi ‘J. E Tatengkeng’ yang berjudul “Drisa Aneisah Mati’
Bumi ini perempuan jalang
Yang menarik laki-laki jantan dan pertapa
Ke rawa-rawa mesum ini
dan membunuhnya pagi hari
Pada contoh di atas yang menunjukkan bahasa kias totem pro parte, yaitu yang berbunyi ‘Bumi ini perempuan jalang’. Dalam contoh di atas, yang seperti perempuan jalang tentunya hanya sebagian dari makhluk yang ada di bumi, yaitu manusia di lingkungan tertentu, tapi dalam hal ini seluruh gejala yang ada, yaitu bumi di angkat atau digunakan untuk mewakili salah satu makhluk yang ada di bumi, yaitu manusia.

2. 2 Kerangka Teori
Berdasarkan kajian kepustakaan yang relevan dengan masalah-masalah yang diteliti, maka dalam penelitian disusun kerangka teori yang mencangkup teori-teori sebagai berikut


2. 2. 1 Bahasa Kias Dalam Puisi
Bahasa kias dalam puisi adalah bahasa indah, dan dipergunakan secara imajinatif, bukan dalam pengertian yang benar-benar secara alamiah saja.
2. 2. 2 Pemahaman Makna Kias Dalam Puisi
Untuk memahami makna kias dalam puisi, seseorang pertama kali harus (1) memahami makna literalnya, (2) mengadakan proyeksi atau memahami dunia yang digambarkan pengarang secara imajinatif, (3) menyusun hasil penggambaran itu menjadi satuan-satuan yang secara potensial mampu menggambarkan pengertian tertentu, dan (4) mengadakan abstraksi dengan jalan menghubungkan hasil persepsi dengan dunia pengetahuan, pengalaman, aspek sosial badaya, kemudian menarik kesimpulan sejalan pesan yang ingin disampaikan.
2. 2. 3 Pengertian Bahasa Kias Metafora
Bahasa Kias metafora adalah jenis bahasa kias yang membandingkan dua hal atau wujud yang sebenarnya, tapi dipersamakan sifatnya secara langsung.
2. 2. 4 Pengertian Bahasa Kias Simile
Bahasa kias simile adalah jenis bahasa kias yang membandingkan dua hal atau wujud yang sebenarnya berbeda, tapi dipersamakan sacara langsung, dengan menggunakan tanda penghubung : seperti, serupa, bagaikan, sebagaimana, laksana, seumpama, dan sejenisnya.
2. 2. 5 Pengertian Bahasa Kias Personifikasi
Bahasa kias personifikasi ialah jenis bahasa kias yang melukiskan benda-benda mati atau tak bernyawa seolah-olah memiliki sifat seperti manusia.
2. 2. 6 Pengertian Bahasa Kias Metonimia
Bahasa Kias metonimia adalah jenis bahasa kias yang menggunakan nama atau atribut untuk menyatakan suatu hal lain, karena memiliki pertalian yang sangat dekat.
2. 2. 7 Pengertian Bahasa Kias Sinedoke
Bahasa kias sinedoke terdiri dari dua macam, yaitu pars pro toto dan totem pro parte. Pars pro toto ialah bahasa kias yang menggunakan sebagian dari suatu hal atau wujud untuk menyatakan keseluruhan hal atau wujud yang dimaksud. Sedangkan totempro parte adalah jenis bahasa kias yang menggunakan keseluruhan hal atau wujud untuk menyatakan sebagian dari suatu hal atau wujud yang dimaksud.
































3.3 Data dan Intrumen Penelitian
3.3.1 Data penelitian
Data penelitian ini berupa lembar jawaban tes maupun memahami bahasa kias dalam puisi, yang keseluruhanya mencangkup tujuh aspek kemampuan. Ketujuh aspek kemampuan tersebut meliputi (1) bahasa kias dalam puisi, (2) pemahaman makna kias dalam puisi, (3) pengertian bahasa metafora, (4) pengertian bahasa simile, (5) pengertian bahasa personifikasi, (6) pengertian bahasa metonimia, dan (7) pergertian bahasa kias sinekdoke.
3.3.2 Intrumen Penelitian
Intrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa tes kemampuan bahasa kias dalam puisi pada siswa kelas II SMA PGRI Talun, yang berbentuk pilihan ganda. Penggunaan bentuk tes pilihan ganda ini dilandasi pemikiran, bahwa bentuk tes tersebut sangat fleksibel untuk mencari tujuan penelitian. Seperti yang dikatakan oleh T.Raka Joni, bahwa bentuk tes pilihan ganda sangat fleksibel dan dapat mencakup bahasa secara komprehansip beserta segala aspek hasil belajar murid. Selain itu, bentuk tes tersebut juga memiliki kepraktisan, (a) mudah dikoreksi, (b) subjektifitas korektortidak mempengaruhi pembijian, dan (c) relative membantu dalam menjawab soal, sebab dapat menstimulasi ingatan pengetahuan, dan kemampuan berfikir murid (dalam Tanuwijaya,1986:35).
Adapun kegiatan yang dilakukan dalam penyusunan intrumen, meliputi (1) perumusan tujuan, (2) pemilihan bahan, (3) uji coba intrumen dan (4) analisis uji coba kegiatan-kegiatan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut;
3.3.2.1 Perumusan Tujuan
Tes ini bertujuan untuk mengukur kemampuan siswa dalam memahami bahasa kias dalam puisi. Pada dasarnya, tujuan tersebut merupakan langkah nyata untuk mencapai tujuan khusus penelitian dan sekaligus berfungsi sebagai alat untuk menguji kebenaran hipotesis penelitian. Bertolak dari tujuan-tujuan khusus dan hipotesis tersebut, maka penyusunan intrumen penelitian bertujuan untuk memperoleh data siswa dalam (1) menjelaskan pengertian bahasa kias dalam puisi, (2) memahami makna kias dalam puisi, (3) menjelaskan pengertian bahasa kias metafora, (4) menjelaskan bahasa kias simile,(5) menjelaskan pengertian bahasa kias personifikasi, (6) menjelaskan pengertian bahasa metonimia, (7) menjelaskan pengertian bahasa kias sinekdoke.
3.3.2.2 Pemilihan Bahan
Dalam penelitian ini, bahan tes yang digunakan berupa tes puisi yang pemilihannya didasari criteria sebagai berikut: (1) menunjukan frekuensi pemunculan bahasa kias yang tinggi dan bervariasi, (2) dari segi moral, puisi tersebut pantas disajikan untuk siswa SMA, dan (3) termasuk jenis puisi konvensional.
3.3.2.3 Uji Coba Intrumen
Bertolak dari pemilihan bahan yang telah disusun, selanjutnya dikembangkan bahan uji coba intrumen tes kemampuan memahami bahasa kias dalam puisi. Bahan tes yang dikembangkan terdiri dari 4 komponen, yaitu , (1) komponen petunjuk pengerjakan, (2) komponen bahan tes berupa puisi, (3) komponen soal, (4) komponen lembar jawaban.
Komponen soal, sebagai komponen yang berisi pertanyaan-pertanyaan, dibagi menjadi lima aspek kemampuan, yaitu (1) aspek kemampuan memahami pengertian bahasa kias metafora dalam puisi, (2) aspek kemampuan memahami pengertian bahasa kias simile dalam puisi, (3) aspek kemampuan memahami pengertian bahasa kias personifikasi, (4) aspek kemampuan memahami pengertian bahasa kias metonimia, dan (5) aspek kemampuan memahami pengertian bahasa kias sinekdoke.
Tujuan uji coba tes kemampuan memahami bahasa kias dalam puisi sebagai intrumen dalam penelitian ini adalah untuk (1) mengkaji validitas, (2) mengkaji tingkat kesukaran, dan (3) mengkaji daya pembeda. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Wayan nurkancara (1986) yang mengatakan, bahwa baik buruknya suatu alat evaluasi dapat kita tinjau dari beberapa segi, yaitu (1) vadilitas, (2) reabilitas, (3) tingkat kesukaran, dan (4) daya beda.
Ujicoba tersebut, dilaksanakan pada tanggal 31 mei 1994 pukul 07,00 sampai 07.45 di SMA PGRI 02 Talun, dengan sasaran uji coba siswa kelas II A2 SMA PGRI 02 Talun yang berjumlah 30 siswa.
Dari hasil uji coba intrumen tersebut dapat diketahui , bahwa (1) waktu yang disediakan untuk mengerjakan soal yaitu 15 menit, telah mencukupi, (2) jumlah soal tidak ada yang direvisi maupun dibuang, dan (3) petunjuk pengerjaan sudah jelas. Hasil percobaanberupa jumlah jawaban benar dan jumlah skordapat dilihat dari tabel di bawah ini.

TABEL I
SKOR TES UJICOBA KEMAMPUAN MEMAHAMI BAHASA
KIAS DALAM PUISI

Nomor tes jumlah jawaban benar jumlah skor

01 20 100
02 20 100
03 20 100
04 20 100
05 19 95
06 19 95
07 19 95
08 19 95
09 19 95
10 17 85
11 17 85
12 17 85
13 17 85
14 17 85
15 17 85
16 17 85
17 17 85
18 16 80
19 16 80
20 16 80
21 16 80
22 16 80
23 16 80
24 15 75
25 15 75
26 15 75
27 15 75
28 15 75
29 15 75
30 15 75
31 13 65
32 13 65
33 13 65
34 10 50
35 10 50
36 9 45
37 9 45

3.3.2.4 Analisis Item
Menurut Nurcancana (1986), analisis item di samping mencari DK dan DBnya, juga dapat dicari efektifitas setiap option yang digunakan dalam item tersebut. (Nurkacana, 1986:134).
Dalam penelitian ini, analisis item dilakukan sesuai dengan langkah-langkah yang dikemukakan oleh Nurcancana. Adapun pelaksanaannya keseluruhan kegiatan analisis item tersebut dapat diikuti dalam uraian berikut:
(1) Derajat Kesukaran (DK) atau Degrees of Difficlty
(DD) dapat di cari dengan rumus:
WL + WH
DK= X 100%
nL =nH
Keterangan:
DK= Derajat Kesukaran
nL= Jumlah kelompok bawah
nH= Jumlah kelompok atas
Kriteria =25% = mudah
25%-75% = sedang
75% =sukar
Untuk mengetahui penentuan tingkat kesukaran dari keseluruhan item tes dapat dilihat pada lampiran 3dan 5. Selanjutnya, dari hasil penghitungan presentase tingkat kesukaran setiap item tes, disusun sebuah klasifikasi item tes yang dibedakan antara kelompok item tes (1) sangat sulit, (2) sulit, (3) sedang, (4) mudah, dan (5) sangat mudah. Hasil pemilihan dapat dilihat pada label berikut ini.

TABEL 2
PEMILIHAN TINGKAT KESUKARAN ITEM TES

Sangat sulit sedang mudah sangat
sulit mudah

1,2,3,4,5,6 15,17
7,8,9,10,11
12,13,14,16
18,19,20

(2) Daya Beda (DB) atau discriminating power(DP) dapat di cari dengan rumus:
WL- WH
DB=
n
Keterangan :
DB= Daya beda
n = Jumlah kelompok atas atau kelompok bawah.
Kriteria= DB ideal adalah 0,40 ke atas
(3) Vadilitas
Suatu tes dikatakan valid, bila tes tersebut benar-benar mengukur apa yang hendak diukur secara tepat. Penentuan vadilitas dapat dilihat dari (1) vadilitas ramalan, yaitu ketepatan (kejituan) dari pada satu alat pengukur ditinjau dari kemampuan tes tersebut untuk meramalkan prestasi yang dicapainya kemudian, (2) vadilitas bandingan, yaitu kejituan daripada suatu tes dilihat dari korelasinya terhadap kecakapan yang telah dimiliki saat kini secara riil, (3) vadilitas isi, yaitu kejituan dari pada suatu tes ditinjau dari isi tes tersebut, dan (4) vadilitas susunan, yaitu kejituan daripada suatu tes ditinjau dari susunan tes tersebut. (Nurkancana, 1986:128-120).
Dalam penelitian ini, pembahasan fadilitas dikhususkan pada vadilitas isi dan susunan . Jika diketahui dari kedua vadilitas tersebut , maka dapat dikatakan penelitian ini sudah sesuai. Penelitian ini memiliki vadilitas isi, karena meteri yang dituangkan dalam intrumen sudah mampu memiliki bahan-bahan yang telah diberikan. Penelitian ini memiliki vadilitas susunan, karena penyusunan intrumen penelitian telah didasarkan pada pedoman penyusun tes, seperti berikut ini, (1) soal tes objektif hendaknya didahului oleh petunjuk tentang cara pengerjaannya, (2) istilah dan susunan kalimat yang digunakan sesuai dengan tingkat dan usia siswa, (3) setiap pertanyaan memiliki satu macam penafsiran, dan (4) urutan jawaban yang betul tidak mengikuti pola-pola yang tetap (Dekdikbut, Pedoman Penilaia, 1979:4).
3.4 Teknik Penelitian
3.4.1 Teknik Pengumpulkan data
Pengumpulan data dilakukan dengan memberi tes kepada siswa sampel. Tes dilakukan setelah intrumen penelitian yang telah diuji cobakan disempurnakan. Secara keseluruhan pelaksanaan pengumpulan data dikoordinasi oleh peneliti dengan dibantu guru bahasa Indonesia setempat.
Pada tahap persiapan, kegiatan yang dilakukan adalah (1) menentukan peserta tes, (2) memberitahu peserta untuk persiapankan diri, dan (3) menentukan waktu dan tempat pelaksanaan .
Pelaksanaan penyebaran instrumen dilakukan satu hari setelah pelaksanaan ujicoba; yaitu pada tanggal 31 mei 1994. Adapun prosedur pelaksanaannya adalah sebagai berikut, (1) mengatur persiapan dan menertipkan siswa, (2) memberi petunjuk pengerjaan soal dan mengadakan pembetulan soal yang mengalami kesalahan pengetikan, (3) memberikan puisi bahan tesdan menugasi siswa untuk membaca puisi bahan tersebut dalam waktu 15menit, (4) membagikan lembar soal dan lembar jawaban, dan (5) mengumpulkan lembar jawaban tes kemampuan memahami bahasa kias dalam puisi.
3.4.2 tehnik Analisis Data
Adapun langkah –langkah analisis dalam penelitian ini meliputi:
(1) Penyeleksian Skor
Data yang telah diberi skor, diseleksi kemudian didaftar secara berurutan sesuai dengan aspek kemanpuan yang telah ditetapkan ( lihat lampiran 5).
(2) Penentuan Skor Maksimal Ideal (SMI)
Skor maksimal ideal ditentukan berdasarkaan jumlah item yang di miliki oleh masing masing aspek dikalikan skor tiap-tiap item, kemampuan untuk aspek kemampuan 1, SMI=30; Ak 11= 5 , AK 111 5, AK1V=10; danAK V= 50.
(3) Mencari Nilai Rata – rata Ideal (SMI)
Rumus yang di gunakan untuk mencari nilai rata- rata ideal adalah :1/2 X SMI.
Hasil penghitungan MI mennunjukan , Mi untuk AK I= !,5,AKK II=2,5 ; AK 1112,5 AK 1V= 5 ,dan AK2,5.
(4) Mencari standar deviasi Ideal (SDI)
Rumus yang digunakan untuk mencari standar deviasi ideal adalah : SDI=1/3X MI.
Hasil penghitungan SDI menunjukan , SDI untuk aspek kemampuan AK1= 5 ; AK 11, 0,8 ; AK111 =0,8 ;AK 1V =1,66 dan AK V = 8,33.
(5) Menyusun tabel konversi Pengubahan Skor Mentah kenilai Angka Skala 0 – 10

Penyusunan tabel konversi norma absolud skala 0 – 10ini , didasarkan pada pedoman konversi norma absolud skala sebelas (Nurkancana , dkk ,1983 : 84)
Tabel 3

KORVERSI PENGGUBAHAN SKOR MENTAH KE NILAI ANGKA SKALA
0 - 10

Skala Sigma Skala Nilai Skala Angka

---------------------------- 11/10 -------------- ------------
MI + 2,25 SDI ---------------------- MI + 2,25 (SDI)
--------------------------- 10/9 ---------------------------
MI + 1,75 SDI ---------------------- MI + 1,75 (SDI)
---------------------------- 9/8 ---------------------------
MI + 1,25SDI --------------------- MI + 1,25 (SDI)
----------------------------- 8/7 ---------------------------
MI +0,75 SDI ----------------------- MI + 0,75 (SDI)
------------------------------ 7/6 ---------------------------
MI + 0,25 SDI ------------------------ MI + 0,25 (SDI)
------------------------------ 6/5 ---------------------------
MI – 0,25 SDI ----------------------- MI + 0,25 (SDI)
----------------------------- 5/4 --------------------------
MI – 0,75 SDI ---------------------- MI + 0,75 (SDI)
----------------------------- 4/3 --------------------------
MI – 1,25 SDI --------------------- MI + 0,25 (SDI)
----------------------------- 3/2 ------------------------
MI - !,75 SDI --------------------- MI – 1,75 (SDI)
----------------------------- 2/1 ------------------------
MI – 2,25 SDI ----------------------- MI – 2,25(SDI)
------------------------------ 1/0 ------------------------
Berdasarkan tabel konversi dan nilai lambang yang terdapat di dalamnya, maka dapat dilaksanakan pengubahan skor mentah ke nilai skala 0-10. Hasil perhitungannya konversi nilai skala 0-10 dapat dilihat pada lampiran 4. (6) Mengubah Skor Mentah menjadi nilai Skala 0-10
Berdasarkan tabel konversi, dapat ditentukan nilai siswa, yaitu dengan jalan menarik garis vertical antara hasil perkalian skala angka yang disesuaikan dengan skor seorang siswa dengan skala nilai 0-10.
(7) Mengubah Distribusi Frekuensi Perhitungan distribusi frekuensi adalah kegiatan penganalisisan lebih lanjut mengenai data yang telah diperoleh dari scoring. Langkah-langkah perhitungan distribusi frekuensi ini adalah :
(a) Menghitung frekuensi (f%) penjawab benar :
(B)Menghitung presentase frekuensi penjawab benar (f%), dengan rumus : f%=f/N X 100%
Keterangan : f = penjawab benar dengan nilai 75 ke atas
f% = frekuensi penjawab benar
N = jumlah seluruh pengikut tes
(c) Menghitung jumlah komulatif frekuensi dari atas ke bawah :
(d) Mentabulasikan distribusi frekuensi, yaitu memasukan distribusi frekuensi tersebut kedalam tabel.
Pentabulasikan distribusi frekuensi dapat dilihat pada lampiran 4.
3.5 Prosedur Penelitian
3.5.1 Tahap Persiapan
Tahap Persiapan ini, diantaranya ialah sebagai berikut :
(1) pemilihan Judul
Pada tahap ini, dilakukan kegiatan pemilihan judul yang relevan dan sekitarnya mampu dikerjakan oleh peneliti.
(2) Konsultasi Dengan Dosen Pembimbing
Pada tahap ini, merupakan kelanjutan dari tahap pemilihan judul, setelah mendapat judul yang relaven kemudian konsultasi dengan dosen pembimbing.
(3) Studi Kepustakaan
Pada tahap ini, dilakukan tahap penelaahan terhadap pustaka yang saling berkaitan dengan gaya bahasa, citraan, pengajaran puisi dan sebagainya, yang nantinya dapat digunakan sebagai landasan teoritas dalam pembahasan penelitian ini.
3.5.2 Tahap Pelaksanaan
Tahap pelaksanaan ini, berupa kegiatan yang saling terkait yaitu, (1) pengumpulan data, (2) pengolahan data, dan (3) penyimpulan hasil analisis data.
3.5.3 Tahap Penyelesaian
Tahap akhir dari penelitian ini , adalah (1) penyusunan draf laporan , (2) pengrevisian draf laporan , (3) pemantapan draf laporan, dan (4) pengetikan atau penggadaan draf laporan.








BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3. 1 Metode Penelitian
Sesuai dengan tujuan yang akan dicapai, yaitu memperoleh gambaran objektif tentang kemampuan siswa dalam memahami bahasa kias dalam puisi, yang meliputi (1) bahasa kias dalam puisi, (2) pemahaman makna kias dalam puisi, (3) pengertian bahasa kias metafora, (4) pengertian bahasa kias simile, (5) pengertian bahasa kias personifikasi, (6) pengertian bahasa kias metonimia, dan (7) pengertian bahasa kias sinedoke tersebut, maka metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif.
Metode deskriptif tersebut memiliki ciri-ciri tertentu, sebagaimana dikemukakan ole Winarno Surachmad, (1972 : 132 ) bahwa metode diskriptif memiliki cirri-ciri (1) memusatkan pada pemecahan masalah yang ada pada masa sekarang, (2) data yang dikumpulkan disusunkan, dijelaskan, dan kemudian dianalisis, (3) menjelaskan dengan teliti dan terinci baik mengenai dasar-dasar metodologinya maupun mengenai detail teknis secara khusus, (4) menjelaskan prosedur pengumpulan data serta pengamatan dalam penelitian terhadap data.
3. 2 Populasi dan Sampel
3. 2. 1 Populasi
Populasi penelitian ialah seluruh siswa kelas II AMA PGRI 02 Talun Tahun Ajaran 1993/1994. Siswa yang tercakup dalam populasi adalah siswa yang telah memperoleh program pengajaran karya sastra dan pengajaran kosa kata berdasarkan kurikulum 1994. Adapun siswa selaku populasi dalam penelitian ini telah memenuhi persyaratan tersebut.

3. 2. 2 Sampel
Penelitian ini, dalam menentukan sampel menggunakan teknik cluster sampel. teknik cluster sampel adalah menentukan salah satu kelas dari jumlah kelas yang ada.
Dalam penelitian ini, jumlah sampel ada yaitu 45 siswa, dengan cirri-ciri sebagai berikut, (1) sampel adalah siswa kelas II A3 SMA 02 Talun Tahun ajaran 1993/1994 (2) siswa telah memiliki pengalaman belajar tentang pemahaman gaya bahasa dalam puisi, dan (3) siswa telah berpengalaman menyelesaikan bentuk-bentuk tes pengumpulan data penelitian yang sesuai dengan petunjuk yang telah ditentukan.















































































BAB IV

HASIL PENELITIHAN



Sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan, maka hasil penelitihan yang diperoleh berupa (1) kemampuan memahami pengertian bahasa kias metafora dalam puisi, (2) kemampuan memahami pengertian bahasa kias simile dalam puisi , (3) kemampuan memahami pengertian bahasa kias personifikasi dalam puisi, (4) kemampuan memahami pengertian bahasa kias metomia dalam puisi, dan (5) kemampuan memahami pengertian bahasa kias sinekdoke dalam puisi.



4.1 KEMAMPUAN MEMAHAMI PENGERTIAN BAHASA KIAS METAFORA
DALAM PUISI.

Data kemapuan memahami pengertian bahasa kias metafora dalam puisi dari sample sebanyak 45 siswa tercantum sample sebanyak 45 siswa pada lampiran 4 data 1. Dalam proses analisis terlihat skor maksimal ideal ( smi ) = 30 dan nilai rata-rata ideal ( MI ) = 15, sedangkan standar deviasi ideal ( SDI ) = 5. selanjutnya MI dan SDI dimaksudkan kedalam table konversi pengubahan skor mentah menjadi nilai 0 – 10. dari tabel - tabel itu dapat diketahui bahwa nilai 10 berada pada skala angka 26, 4-30 nilai 9 berada pada skala angka 23, 9-26,3, nilai 8 berada pada skala angka 21,4 – 23, 8 , nilai 7 berada pada skala angka 18, 9 – 21 , 3 nilai 6 berada pada skala angka 16,4 – 18,8 nilai 5 berada pada skala angka 13,5 – 16,3 , nilai 4 berada pada skala angka 11,4 – 13,8 , nilai angka 3 berada pada skala angka 8,76 - 11,3 , nilai 2 berada pada skala angka 6,26 – 8,75, nilai 1 berada pada angka 3,8 – 6,25 nilai 0 berada pada skala angka tersebut maka gambaran hasil analisis data yang diperoleh dapat diperjelas dengan tabel distribusi frekuensi seperti berikut .








TABEL 4
DISTRIBUSI FREKUENSI PENJAWAB BENAR
ASPEK KEMAMPUAN I



JUMLAH
ITEM SKALA
NILAI
0 – 10 FREKUENSI

f f % KOMULASI
f f%
5 10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0


21
9
-
7
3
3
1
-
-
1
0 46,6
20
-
15,6
6,7
6,7
2,2
-
-
2,3
-
21
30
30
37
40
43
44
44
45
-
-
46,7
66,7
-
82,3
89
95,7
97,9
-
-
100
-



Berdasarkan hasil tersebut dapat diperoleh gambaran bahwa nilai tertinggi yang dicapai oleh siswa adalah 10 dan nilai terendah 1. lebih lanjut, dari tabel tersebut dapat diperoleh informasi bahwa siswa yang mencapai nilai 75 atau lebih berjumlah 40 siswa = 89 %. Sedangkan siswa yang memperoleh nilai lebih kecil dari 75 berjumlah 5 siswa = 11,1 % . perhitungan jumlah tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini.






TABEL
TABEL PENGHITUNGAN JUMLAH SISWA YANG MEMPEROLEH
NILAI ≥75 DAN ≤ 75 ASPEK KEMAMPUAN I

NILAI 75
NILAI 75
JUMLAH PERSENTSE JUMLAH PERSENTASE
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0

21
9
-
7
3
-
-
-
-
-
-
46,7
20
-
15,6
6,7
-
-
-
-
-
-
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
-
-
-
-
-
3
1
-
-
-
1 -
-
-
-
-
6,7
2,2
-
-
-
2,2

JUMLAH 40 89 5 11,1


Untuk lebih jelasnya, gambaran hasil analisis data kemampuan memahami bahasa kias metafora dalam puisi dapat dilihat dalam diagram berikut ini .

100
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0

AK I AK II AK III AK IV AK V
4.2 KEMAMPUAN MEMAHAMI PENGERTIAN BAHASA KIAS SIMILE
DALAM PUISI

Data kemampuan memahami pengertian bahasa kias simile dalam puisi sebanyak 45 siswa terlihat pada lampiran 4 data 11. dalam proses analisis skor maksimal ideal ( SMI ) = 5 , dan nilai rata-rata ideal ( MI ) = 2,5, sedangkan standar deviasi ideal ( SDI ) = 0,8 . Selanjutnya MI dan SDI dimaksudkan ke dalam tabel konversi pengubahan skor mentah menjadi skala 0 – 10. dari tabel – tabel itu dapat diperoleh bahwa nilai 10 berada pada skala angka 4,4 – 5, nilai 9 berada pada skala angka 3,5 – 4,3 , nilai 8 berada pada skala angka 3,6 – 3,4, nilai 7 berada pada skala angka 3,2 - 3,5 , nilai 6 berada pada skala angka 2,4 – 2,7 , nilai 5 berada pada skala angka 1,10 – 2,3, nilai 4 berada pada skala angka 1,6 – 1,9, nilai 3 berada pada skala 1,6 – 1,9 , nilai 1 berada pada skala angka 0,8 – 1,1 nilai 0 berada pada angka 0 – 0,7 . berdasarkan penarikan garis vertical dari skala nilai ke skala angka tersebut, maka hasil analis data yang diperoleh dapat diperjelas dengan tabel distribusi frekuensi seperti berikut ini.






















TABEL 6
DISTRIBUSI FREKUENSI PENJAWAB BENAR
ASPEK KEMAMPUAN II


JUMLAH
ITEM SKALA
NILAI
0 - 10 FREKUENSI

f
f %
KOMULASI

f F%
1 10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
21
9
-
7
3
3
1
-
-
1
0
46,7
20
-
15,6
6,7
6,7
2,2
-
-
2,2
-
21
30
30
37
40
43
44
44
45
-
-
46,7
66,7
-
82,3
89
95,7
97,9
-
-
100
-




Tabel diatas memberikan informasi lebih lanjut bahwa siswa yang memperoleh nilai 75 % keatas sebanyak 40 siswa = 80 % dan yang memperoleh nilai kurang 75 % sebayak 5 siswa = 11,1 % . penghitungan jumlah dan persentase tersebut dapat dibuktikan melalui tabel berikut .









TABEL 7

TABEL PENGHITUNGAN JUMLAH SISWA YANG MEMPEROLEH
NILAI ≥ 75 DAN ≤ 75 ASPEK KEMAMPUAN II
NILAI 75
NILAI 75
JUMLAH PERSENTASE JUMLAH PERSENTASE
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
21
9
-
7
3
-
-
-
-
-
-
46,7
20
-
15,6
6,7
-
-
-
-
-
-
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
-
-
-
-
-
3
1
-
-
-
1 -
-
-
-
6,7
2,2
-
-
-
-
2,2
JUMLAH 40 89 JUMLAH 5 11,1

Lebih jelasnya, gambaran hasil analisis data kemampuan memahami bahasammkias simile dalam puisi dapat dilihat dalam diagram berikut ini.

100
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0
AKI AKII AKIII AKIV AK V

4.3 KEMAMPUAN MEMAHAMI PENGERTIAN BAHASA KIAS
PERSONIFIKASI DALAM PUISI

Data kemampuan memahami pengertian bahasa kias personifikasi dalam puisi sebanyak 45 siswa terlihat pada lampiran 4 data III . dalam proses analisis skor maksimal ideal ( SMI ) =5 , dan nilai rata –rata ideal ( MI ) = 2,5 , sedangkan standar deviasi ideal ( SDI ) = 0,8. selanjutnya MI dan SDI dimasukkan kedalam tabel konversi pengunahan skor mentah menjadi 0 – 10 . dari tabel – tabel itu dapat diketahui bahwa nilai 10 berada pada skala angka 26,4 – 30 : nilai 9 berada pada skala angka 3,5 – 4,3 : nilai 8 berada pada skala angka 3,6 - 3,4 : nilai 7 berada pada skala angka 3,2 – 3,5 : nilai 6 berada pada skala angka 2,8 – 3,1 ; nilai 5 berada pada skala angka 0 – 0,7. nilai 8 berada pada skala angka 3,6 – 3,4 ; nilai 7 berada pada skala angka 3,2 – 3,5 ; nilai 6 berada pada skala angka 2,8 – 3,1 ; nilai 5 berada pada skala angka 2,4 – 2,7 ; nilai 4 berada pada skala angka 1,6 – 1,9 ; nilai 2 berada pada skala angka 1,2-1,5 ; nilai 1 berada pada skala angka 0 – 0,7.
Berdasarkan penarikan garis vertical dari skala nilai ke skala angka tersebut, maka gambaran hasil analisi data yang diperoleh dapat diperjelas dengan table distribusi freksfensi seperti berikut ini.

TABEL 8
DISTRIBUSI FREKUENSIS PENJAWAB BENAR
ASPEK KEMAMPUAN 111

JUMLAH
ITEM
SKALA
NILAI FREKUENSI
KOMULATIF
f f % f 1 %
1 10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
13
11
-
12
-
6
-
3
-
-
-
28,9
24
-
26,7
13,3
-
6,7
-
-
-
-
13
24
-
36
-
42
-
45
-
-
-

18,9
53,3
-
80
-
93,3
-
100
-
-
-


Tabel tersebut memberikan informasi lebih lanjut, bahwa siswa yang memperoleh nilai 95 ke atas sebanyak 36 siswa = 80 % dan yang memperoleh nilai kurang dari 75 % sebanyak 9 siswa = 20 % . penghitungan jumlah persentase tersebut dapat dibuktikan melalui table seperti terlihat berikut ini.



TABEL 9
TABEL PENGHITUNGAN JUMLAH SISWA YANG MEMPEROLEH
NILAI ≥ DAN < 75 % ASPEK KEMAMPUAN III



NILAI
75
NILAI 75

JUMLAH
PERSENTASE JUMLAH PERSENTASE
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
13
11
-
12
-
-
-
-
-
-
-
28,9
24,4
-
26,7
-
-
-
-
-
-
-
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0



-
-
-
-
-
6
-
3
-
-
-
-
-
-
-
-
13,3
-
6,7
-
-
-

JUMLAH 36
80 JUMLAH 9 20




Lebih jelasnya, gambaran hasil analisi data kemampuan memahami bahasa kias personifikasi dalam puisi dapat dilihat dalam diagram berikut.

100
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0
AKI AKII AKIII AKIV AK V





4.4 Kemampuan Memahami Pengertian Bahasa Kias metonimia Dalam
Puisi

Data kemampuan memahami pengertian bahasa kias metonimia dalam puisi sebanyak 45 siswa terlihat pada lampiran 4 data IV. Dalam proses analisis terlihat skor maksimal ideal ( SDI ) = 10, dan nilai rata-rata ideal ( MI ) = 15, sedangkan standar deviasi ideal ( SDI ) = 1,66. selanjutnya MI dan SDI dimasukkan ke dalam table konversi pengubahan skor mentah menjadi skala nilai 0 – 10. Dari tabel – tabel itu dapat diketahui bahwa nilai 10 berada pada skala angka 8,75 – 10 : nilai 9 berada pada skala angka 7, 92 – 8, 74 : nilai 8 berada pada skala angka 7, 09 - 7,91.
7,91 ; nilai 7 berada pada skala angka 6,26 – 7,08 ; nilai 6 berada pada skala angka 5,42 – 6,25 ; nilai 5 berada pada skala angka 4,59 – 5,42 ; nilai 4 berada pada skala angka 3,76 – 4,58 ; nilai 3 berada pada skala angka 2,93 ; nilai 1 berada pada skala angka 1,27 – 2,09 ; nilai 0 berada pada skala angka 0 - 1,26. berdasarkan penarikan garis vertical dari skala nilai keskala angka tersebut, maka gambaran hasil analis data yang diperoleh dapat diperjelas dengan tabel distribusi frekuensi seperti berikut ini.


TABEL 10
DISTRIBUSI FREKUENSI PENJAWAB BENAR
ASPEK KEMAMPUAN IV



JUMLAH
ITEM SKALA

NILAI
0 - 10 FREKUENSI

f
f %
KOMULASI

f f %
2 10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
-
6
-
14
-
18
-
5
-
2
- -
13,3
-
31,1
-
40
-
11,1
-
44,4
-

-
6
-
20
-
38
-
43
-
45
- -
13,3
-
44,4
-
84,4
-
95,5
-
100
-





Tabel tersebut memberikan informasi lebih lanjut bahwa siswa yang memperoleh nilai 75 % k eats sebanyak 20 siswa = 44,4% dan yang memperoleh nilai kurang dari 75 sebanyak 25 siswa = 55, 5 % . penghitungan jumlah dan persentase tersebut dapat dibuktikan melalui tabel seperti berikut ini .






TABEL II
TABEL PENGHITUNGAN JUMLAH SISWA YANG MEMPEROLEH
NILAI ≥ 75 DAN ≤ 75 ASPEK KEMAMPUAN IV




NILAI
75
NILAI 75

JUMLAH
PERSENTASE JUMLAH PERSENTASE
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
-
6
-
14
-
-
-
-
-
-
- -
13,3
-
31,1
-
-
-
-
-
-
-
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0 -
-
-
-
-
18
-
5
-
2
-
-
-
-
-
-
40,4
-
11,1
-
4,4
-

JUMLAH 36
80 JUMLAH 9 20


Lebih jelasnya, gambaran hasil analis data kemampuan memahami bahasa kiss metonimia dalam puisi dapat dilihat dalam diagram berikut ini.










100
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0
AKI AKII AKIII AKIV AK V


4.5 KEMAMPUAN MEMAHAMI PENGERTIAN BAHASA KIAS
DALAM PUISI

Data kemampuan memahami pengertian bahasa kias sinekdoke dalam puisi dari sample sebanyak 45 siswa tercantum pada lampiran 4 dan 5. dalam proses analisis terlihat skor maksimal ideal ( SMI ) = 50, dan nilai rata-rata ideal ( MI ) = 25, sedangkan standar deviasi ideal ( SDI ) 8,33. selanjutnya MI dan SDI dimasukkan ke dalam tabel konversi pengubahan skor mentah menjadi nilai 0 – 10 . dari tabel-tabel itu dapat diketahui bahwa nilai 10 berada pada skala angka 43,8 – 50 : nilai 9 berada pada skala angka 39,1 – 43,7 ; nilai 7 berada pada skala angka 1,3 – 35,4; nilai 6 berada pada skala angka 27,2 – 31,2; nilai 5 berada pada skala angka 23 – 27,1 ; nilai 4 berada pada skala 18,9 – 22,9; nilai 3 berada pada skala angka 14,7 – 18,8 ; nilai 2 berada pada skala angka 10,5 – 14,6 nilai 1 berada pada skala angka 6,4 – 10,4 , nilai 0 berada pada skala angka 0 – 6,3 . berdasarkan penarikan garis vertical dari skala nilai ke skala angka tersebut, maka gambaran hasil analisis data yang diperoleh dapat diperjelas dengan tabel distribusi frekuensi seperti berikut .





TABEL 12
DISTRIBUSI FREKUENSI PENJAWAB BENAR
ASPEK KEMAMPUAN V



JUMLAH
ITEM SKALA

NILAI
0 - 10 FREKUENSI

f
f %
KOMULASI

f f %
2 10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
-
6
-
14
-
18
-
5
-
2
- -
13,3
-
31,1
-
40
-
11,1
-
44,4
-

-
6
-
20
-
38
-
43
-
45
- -
13,3
-
44,4
-
84,4
-
95,5
-
100
-




Tabel di atas memberikan informasi lebih lanjut bahwa siswa yang memperoleh nilai 75 ke atas sebanyak 12 siswa = 26,7 % dan yang memperoleh nilai 75 ke atas sebanyak 33 siswa = 73,2 % . penghitungan memperoleh nilai kurang dari 75 sebanyak 33 siswa = 73,2 %. Penghitungan jumlah dan persentase tersebut dapat dibuktikan melalui tabel seperti berikut ini.






TABEL 13
TABEL PENGHITUNGAN JUMLAH SISWA YANG MEMPEROLEH
NILAI ≥75 DAN < 75 ASPEK KEMAMPUAN V





NILAI
75
NILAI 75

JUMLAH
PERSENTASE JUMLAH PERSENTASE
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
-
-
4
-
8
-
-
-
-
-
-
-
-
8,9
-
17,8
-
-
-
-
-
-
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0 -
-
-
-
-
6
-
15
6
-0
6
-
-
-
-
-
13,3
-
33,3
13,3
-
-

JUMLAH 12 26,7 JUMLAH 33 73,2


L ebih jelasnya , gambaran hasil analisis data kemampuan memahami bahasa kias sinekdoke dalam puisi dapat dilihat dalam diagram berikut ini.








100
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0
AKI AKII AKIII AKIV AK V

Demikian uraian hasil analisis data kemampuan memahami bahasa kias dalam puisi pada siswa kelas II SMA PGRI Talun tahun ajaran 1993 / 1994. untutk lebih jelasnya gambaran hasil analis data (1) kemampuan memahami pengertian bahasa kias metafora dalam puisi, (2) kemampuan memahami pengertian bahasa kias simile dalam puisi ( 3) kemampuan memahami pengertian bahasa kias personifikasi dalam puisi, (4) kemampuan memahami pengertian bahasa kias mdetoninja, dan ( 5) kemampuan memahami pengertian bahasa kias sinekdoke dapat dilihat dalam diagram berikut.

100
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0
AKI AKII AKIII AKIV AK V




Keterangan :
AK I : persentase kemampuan memahami pengertian bahasa kias metafora
dalam puisi.
AK II : persentase kemampuan memahami pengertian bahasa kias simile
dalam puisi.
AK III : persentase kemampuan memahami pengertian bahasa kias
Personifikasi dalam puisi.
AK IV : persentase kemampuan memahami pengertian bahasa kias metonimia
dalam puisi
AK V : persentase kemampuan memahami pengertian bahasa kias sinekdoke
dalam puisi
KT : kriteria target.


RANGKUMAN 14
RANGKUMAN HASIL ANALISI DATA


No Aspek kemampuan memahami Bahasa Kias Dalam Puisi 75
jumlah persentase 75
jumlah persentase Tafsiran hasil Analisi Data
1 2 3 4 5 6 7
1.

2.

3.

4

5




Memahami pengertian bahsa kias metafora dalam puisi.
Memahami pengertian bahasa kias simile dalam puisi.
Memahami pengertian bahasa kias personifikasi dalam pusi
Memahami pengertian bahasa kias metonimia dalam puisi.
Memahami pengertian bahasas kias sinekdoke dalam puisi 40

40

36

20

12
89%

89%

80%

44,4%

2,7% 5

5

9

25

33 11,1%

11,1%

20%

55,5%

73,2% Hipotesis diterima

Hipotesa diterima

Hipotesa diterima

Hipotesis ditolak

Hipotesis ditolak






5.2 Kesimpulan

Berdasarkan deskripsi hasil analisis data ( butir 4.1 ) dan rangkuman hasil analis data ( 5.1 ) , maka secara aspectual dapat disimpulkan sebagai berikut :
1) Siswa kelas II SMA PGRI 02 Talun tahun ajaran 1993/1994 mampu memahami pengertian bahasa kias metafora dalam puisi.
2) Siswa kelas II SMA PGRI 02 Talun tahun ajaran 1993/1994 mampu memahami pengertian bahasa kias personifikasi dalam puisi.
3) Siswa kelas ……………….mampu memahami pengertian bahasa kias personifikasi dalam puisi.
4) Siswa kelas II …………..tidak mampu memahami pengertian bahasa kias metonimia dalam puisi.
5) Siswa………………..tidak mampu memahami pengertian bahasa kias sinekdoke dalam puisi.

Lebih lanjut , bertolak dari tujuan umum penelitihan, maka dapat disimpulkan bahwa siswa kelas II ….kurang mampu memahami bahasa kias dalam puisi. Dikatakan kurang mampu memahami bahasa kias dalam puisi, karena ada beperapa bahasa kias yang belum dipahami oleh siswa (1) pengertian bahasa kias metonimi dalam puisi dan (2) pengertian bahasa kias sinekdoke dalam puisi.

5.3 Saran - saran

berdasarkan kesimpulan hasil penelitihan, maka berikut ini dapat disampaikan beberapa saran, baik dalam bidang pengajaran maupun untuk peneliti selanjutnya.

5.3.1 Saran Dalam Bidang Pengajaran
Bertolak dari hasil penelitihan, yaitu siswa kelas …..(1) memahami pengertian bahasa kias metafora dalam puisi, (2) mampu memahami pengertian bahasa kias simile dalam puisi (3) mampu memahami pengertian bahasa kias personifikasi dakam puisi, (4) tidak mampu memahami pengertian bahasa kias metonimi dalam puisi, dan (5) tidak mampu memahami pengertian bahasa kias sinekdoke dalam puisi, maka dapat diketahui bahwa kemampuan memahami bahasa kias dalam puisi masih kurang oleh siswa ………….., hal ini dapat dilihat pada kemampuan memahami bahasa kias metonimia dan sinekdoke.
Sehubungan dengan perkembangan hal tersebut, maka dapat diduga bahwa kekurangan – keberhasilan tersebut disebabkan oleh kekurangan akraban siswa dengan puisi, maka disarankan dalam bidang pengajaran puisi agar lebih ditingkatkan, khususnya dalam hal memahami pengertian bahasa kias metonimia dalam puisi dan kemampuan memahami pengertian bahasa kias sinekdoke dalam puisi.


5.3.2 Saran Kepada Peneliti Selanjutnya.

Dalam penggarapan penelitihan ini, peneliti dihadapkan pada beberapa persoalan, antara lain (1) sulitnya mencari dan memilih bahan tes, berupa puisi, yang sesuai dengan minat dan tingkat kemampuan siswa kelas …..
(2) sulitnya mencari bahan tes , berupa tes, yang memuat berbagai jenis bahasa kias dalam puisi yang bervariasi dan , (3) sulitnya menentukan umpan ( distractor) yang mirip dengan kunci jawaban . dengan adanya beberapa persoalan diatas , maka peneliti mengalami kesulitan dalam mengkaji alat pengukur kemampuan siswa. Sehubungan dengan hal tersebut, maka disarankan pada peneliti selanjutnya agar memperhatikan beberapa persoalan diatas, sehingga tidak terperangkap pada kesulitan yang sama.
Penelitihan ini hanya mampu mendiskripsikan kemampuan siswa dalam memahami bahasa kias dalam puisi, maka disarankan pada peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitihan yang berhubungan dengan kemampuan siswa dalam memahami bahasa kias dalam genre sastra yang lain.















TES KEMAMPUAN MEMAHAMI BAHASA KIAS DALAM PUISI PADA SISWA KELAS II…………

( waktu : 45 menit )

LEMABAR A
PETUNJUK MENGERJAKAN
1. Tulislah nama, kelas , dan nomor urut kelas pada lembar jawaban ( Lembar D ).
2. Bacalah sebuah puisi pada lembar B baik-baik, dengan memperhatikan dan memahami bahasa kias yang terdapat dalam puisi tersebut.
3. Bacalah setiap pertanyaan yang terdapat pada lembar C dengan cermat, dan jawablah setiap pertanyaan dengan memberikan tanda silang ( X ) pada jawaban yang anda anggap paling tepat di lembar jawaban yang telah tersedia ( lembar D ).
4. Berilah tanda lingkaran untuk jawaban yang tidak jadi anda pilih ( 1.a b c d e ), kemudian berilah tanda silang ( X ) pada jawaban yang baru, seperti contoh berikut ( 1. a b c d e ).


BAHAN TES KEMAMPUAN MEMAHAMI BAHASA KIAS DALAM PUISI…….

LEMBAR B

DOA ORANG LAPAR
Kelaparan adalah burung gagak
Yang licik dan hitam
Jutaan burung gagak
Bagai awan yang hitam

O Allah !
Burung gagak menakutkan
Dan kelaparan adalah burung gagak
Selalu menakutkan
Kelaparan adalah pemberontakan
Adalah penggerak aib
Dari pisau – pisau pembunuh
Yang diayunkan oleh tangan – tangan orang miskin.
Kelaparan adalah batu – batu karang
Di bawah laut yang tidur.
Adalah pengkhianatan kehormatan.
Seorang pemuda yang gagah akan menangis tersedu
Melihat bagaimana tanganya sendiri
Meletakkan kehormatanya di tanah
Karena kelaparan
Kelaparan adalah iblis.
Kelaparan adalah iblis yang menawarkan kediktatoran
Allah !
Kelaparan adalah tangan-tangan hitam
Yang memasukkan segemgam tawas
Ke dalam perut para miskin

Allah !
Kami berlutut.
Mata kami adalah mata - Mu
Ini juga mulut - Mu
Ini juga hati- Mu
Ini juga perut – Mu.
Perut – Mu lapar, ya Allah !
Perut – Mu menggemgam tawas
Dan pecahan-pecahan kaca
O Allah !
Betapa indahnya sepiring nasi panas
Semangkuk sop dan segelas kopi hitam
Allah !
Kelaparan adalah burung gagak
Jutaan burung gagak
Bagai awan hitam
Menghalang pandangku
Ke sorga – Mu






SOAL KEMAMPUAN MEMAHAMI BAHASA KIAS DALAM PUISI PADA SISWA

LEMBAR C
1. Kelaparan adalah burung gagak.
Kalimat di atas termasuk salah satu jenis bahasa kias :
a. metafora b. Simile c. personifikasi d. metonimi
d. sinekdoke
2. Dan kelaparan adalah burung gagak
Kalimat di atas termasuk salah satu jenis bahasa kias :
a. metafora b. simile c. personifikasi d. metonimi
d. Sinekdoke
3. Kelaparan adalah pemberontakan .
Kalimat di atas termasuk salah satu jenis bahasa kias :
a. metafora b. simile c. personifikasi d. metonimi
d. sinekdoke
4. Kelaparan adalah batu – batu karang
Kalimat di atas termasuk salah satu jenis bahasa kias :
a. metafora b. simile c. personifikasi d. metonimi
d. sinekdoke
5. Kelaparan adalah iblis.
Kalimat di atas termasuk salah satu jenis bahasa kias :
a. metafora b. simile c. personifikasi d. metonimi
d. sinekdoke
6. Kelaparan adalah iblis yang menawarkan kediktatoran.
Kalimat di atas termasuk salah satu jenis bahasa kias ;
a. metafora b. simile c. personifikasi d. metonimi
d. sinekdoke
7. Bagi awan yang hitam.
Kalimat di atas termasuk salah satu jenis bahasa kias :
a. metafora b. simile c. personifikasi d. metonimi
d. sinekdoke
8. Di bawah laut yang tidur
Kalimat di atas termasuk salah satu jenis bahasa kias :
a. metafora b. simile c. personifikasi d. metonimi
d. sinekdoke


9. Dari Pisau-pisau pembunuh.
Kalimat di atas termasuk salah satu jenis bahasa kias :
a. metafora b. simile c. personifikasi d. metonimi
d. sinekdoke
10. Betapa indahnya sepiring nasi panas.
Kalimat di atas termasuk salah satu jenis bahasa kias :
a. metafora b. simile c. personifikasi d. metonimi
d. sinekdoke
11. Melihat bagaimana tanganya sendiri.
Kalimat di atas termasuk salah satu jenis bahasa kias :
a. metafora b. simile c. personifikasi d. metonimi
e. sinekdoke
12. Meletakan kehormatan di tanah.
Kalimat di atas termasuk salah satu jenis bahasa kias :
a. metafora b. simile c. personifikasi d. metonimi
e. sinekdoke
13. Kami berlutut
Kalimat di atas termasuk salah satu jenis bahasa kias :
a. metafora b. simile c. personifikasi d. metonimi
e. sinekdoke
14. Ini juga mulut-MU
Kalimat di atas termasuk salah satu jenis bahasa kias :
a. metafora b. simile c. personifikasi d. pars pro toto
e. totem pro parte
15. Ini juga hati-MU
Kalimat di atas termasuk salah satu jenis bahasa kias :
a. metafora b. simile c. personifikasi d. pars pro toto
e. totem pro parte
16. Ini juga perut – Mu.
Kalimat di atas termasuk salah satu jenis bahasa kias :
a. metafora b. simile c. personifikasi d. pars pro toto
e. totem pro parte
17. Perut – Mu menggegam tawas.
a. metafora b. simile c. personifikasi d. pars pro toto
e. totem pro parte



18. Perut – Mu Lapar.
Kalimat di atas termasuk salah satu jenis bahasa kias :
a. metafora b. simile c. personifikasi d. pars pro toto
e. totem pro parte
19. Mata kami adalah mata – Mu.
Kalimat di atas termasuk salah satu jenis bahasa kias :
a. metafora b. simile c. personifikasi d. pars pro toto
e. totem pro parte
20. Ke sorga – Mu.
Kalimat di atas termasuk salah satu jenis bahasa kias :
a. metafora b. simile c. personifikasi d. pars pro toto
e. totem pro parte


























HASIL ANALISI DERAJAT KESUKARAN DAN DAYA INSTRMEN YANG TELAH DIUJICOBAKAN.

No Item Kriteria DK WL WH DB Kriteria
1 2 3 4 5 6 7
01
02
03
04
05
06
07
08
09
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
M
S
M
S
S
S 27
54
31
42
42
42
50
35
65
46
50
42
31
19
23
31
23
50
50
50 5
8
8
9
9
9
9
6
9
9
9
9
6
3
4
6
6
8
8
8
2
6
0
2
2
2
4
3
8
3
4
2
2
2
2
2
0
5
5
5
0,23
0,15
0,61
0,54
0,54
0,54
0,1
0,69
0,1
0,46
0,38
0,54
0,31
0,1
0,15
0,31
0,46
0,23
0,23
0,23 TI
TI
I
I
I
I
TI
I
TI
I
I
I
I
TI
TI
TI
I
TI
TI
TI














KETERANGAN
DK :derajat kesukaran
WL : Jumlah Individu kelompok bawah ( ….dari bawah ) yang tidak menjawab
salah satu item tertentu
WH : Jumlah Individu kelompok atas ( 27 % dari atas ) yang tidak menjawab atau
Menjawab atau menjawab salah pada item tertentu.
DK : Derajat Kesukaran
M : Mudah
S : Sedang
DB : Daya Beda
I : Ideal
TI : Tidak Ideal


























DATA I : Kemampuan Memahami Pengertian Bahasa Kias Metafora Dalam
Puisi
Skor Maksimal Ideal ( SMI ) = 6 x 5 = 30
Nilai Rata-rata Ideal ( MI ) = x SMI = x 30 = 15
Standar Deviasi Ideal ( SDI ) = x MI = x 15 = 5

TABEL KONVERSI PENGUBAHAN SKOR MENTAH KE NILAI
SKALA NILAI 0 - 10


SKALA
SIGMA SKALA
NILAI SKALA
ANGKA

MI + 2,25 SDI

MI + 1,75 SDI

MI + 1,25 SDI

MI + 0,75 SDI

MI + 0,25 SDI

MI + 0,25 SDI

MI + 0,75 SDI

MI + 1,25 SDI

MI + 1,75 SDI

MI + 2,25 SDI 10
15 + 2,25 ( 5 ) = 15 + 11,3 = 26,3

15 + 1,75 ( 5 ) = 15 + 8,75 = 23,8

15 + 1,25 ( 5 ) = 15 + 6,25 = 21,3

15 + 0,75 ( 5 ) = 15 + 3,75 = 18,8

15 + 0,25 ( 5 ) = 15 + 1,25 = 16,3

15 - 0,25 ( 5 ) = 15 + 1,25 = 13,8

15 - 0, 75 (5 ) = 15 + 3,75 = 11,3

15 – 1,25 ( 5 ) = 15 – 6,25 = 8,75

15 – 1,75 ( 5 ) = 15 – 8,75 = 6,25

15 – 2,25 ( 5 ) = 15 – 11,3 = 3,7
26,4 – 30
9 23,9 – 26,3
8
21,4 – 23,8
7
18,9 – 21,3
6 16,4 – 18,8
5 13,9 – 16,3
4 11,4 – 13,8
3 8,76 – 11,
2 6,26 – 8,75
1 3,8 – 6,25
0 < 3,7











TABEL PENGHITUNGAN JUMLAH SISWA YANG MEMPEROLEH
NILAI ≥ 75 DAN < 75 ASPEK KEMAMPUAN


NILAI
≥ 75
NILAI 75

JUMLAH
PERSENTASE JUMLAH PERSENTASE
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
21
9
-
7
3
-
-
-
-
-
-
46,7
20
-
15,6
6,7
-
-
-
-
-
-
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0 -
-
-
-
3
1
-
-
-
-
1

-
-
-
-
6,7
2,2
-
-
-
-
2,2
JUMLAH 40 89 JUMLAH 5 11,1

















DATA II : Kemampuan Memahami Pengertian Bahasa Kias
Simile Dalam Puisi
SMI ( Skor Makasimal Ideal ( SMI ) = 1 x 5 = 15
Nilai Rata-rata Ideal ( MI ) = x SMI = x 5 = 2,5
Standar Deviasi Ideal ( SDI ) = x MI = x 2,5 = 0,8




SKALA
SIGMA SKALA
NILAI SKALA
ANGKA

MI + 2,25 SDI

MI + 1,75 SDI

MI + 1,25 SDI

MI + 0,75 SDI

MI + 0,25 SDI

MI + 0,25 SDI

MI + 0,75 SDI

MI + 1,25 SDI

MI + 1,75 SDI

MI + 2,25 SDI 10
2,5 + 2,25 ( 0,8) = 2,5 + 1,8 = 4,3

2,5 + 1,75 ( 0,8 ) = 2,5 + 1,4 = 3,4

2,5 + 1,25 ( 0,8 ) = 2,5 + 1 = 3,5

2,5 + 0,75 ( 0,8) = 2,5 + 0,6 = 3,1

2,5 + 0,25 (0,8 ) = 2,5 + 0,2 = 2,7

2,5 - 0,25 (0,8 ) = 2,5 – 0,2 = 2,3

2,5 - 0, 75 (0,8 ) = 2,5 – 0,6 = 1,9

2,5 – 1,25 (0,8) = 2,5 – 1,4 = 1,5

2,5 – 1,75 (0,8 ) = 2,5 – 1,4 = 1,1

2,5 – 2,25 (0,8 ) = 2,5 – 1,8 = 0,7
4,4 – 5
9 3,5 – 4,3
8
3,6 – 3,4
7
3,2 – 3,5
6 2,8 – 3,1
5 2,4 – 2,7
4 1,10 – 2,3
3 1,6 – 1,9
2 1,2 – 1,5
1 0,8 – 1,1
0 < 0,7

















TABEL PENGHITUNGAN JUMLAH SISWA YANG MEMPEROLEH
NILAI ≥ 75 DAN < 75 ASPEK KEMAMPUAN II


NILAI
≥ 75
NILAI 75

JUMLAH
PERSENTASE JUMLAH PERSENTASE
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
21
9
-
7
3
-
-
-
-
-
-
46,7
20
-
15,6
6,7
-
-
-
-
-
-
10
9
8
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
3
1
-
-
-
-
1

-
-
-
-
6,7
2,2
-
-
-
-
2,2
JUMLAH 40 89 JUMLAH 5 11,1



















DATA III : Kemampuan Memahami Pengertian Bahasa Kias Personifikasi
dalam Puisi
Skor Makasimal Ideal ( SMI ) = 1 x 5 = 15
Nilai Rata-rata Ideal ( MI ) = x SMI = x 5 = 2,5
Standar Deviasi Ideal ( SDI ) = x MI = x 2,5 = 0,8

TABEL KONVERSI PENGUBAHAN SKOR MENTAH KE NILAI 0 - 10




SKALA
SIGMA SKALA
NILAI SKALA
ANGKA

MI + 2,25 SDI

MI + 1,75 SDI

MI + 1,25 SDI

MI + 0,75 SDI

MI + 0,25 SDI

MI + 0,25 SDI

MI + 0,75 SDI

MI + 1,25 SDI

MI + 1,75 SDI

MI + 2,25 SDI 10
2,5 + 2,25 ( 0,8) = 2,5 + 1,8 = 4,3

2,5 + 1,75 ( 0,8 ) = 2,5 + 1,4 = 3,4

2,5 + 1,25 ( 0,8 ) = 2,5 + 1 = 3,5

2,5 + 0,75 ( 0,8) = 2,5 + 0,6 = 3,1

2,5 + 0,25 (0,8 ) = 2,5 + 0,2 = 2,7

2,5 - 0,25 (0,8 ) = 2,5 – 0,2 = 2,3

2,5 - 0, 75 (0,8 ) = 2,5 – 0,6 = 1,9

2,5 – 1,25 (0,8) = 2,5 – 1,4 = 1,5

2,5 – 1,75 (0,8 ) = 2,5 – 1,4 = 1,1

2,5 – 2,25 (0,8 ) = 2,5 – 1,8 = 0,7
4,4 – 5
9 3,5 – 4,3
8
3,6 – 3,4
7
3,2 – 3,5
6 2,8 – 3,1
5 2,4 – 2,7
4 1,10 – 2,3
3 1,6 – 1,9
2 1,2 – 1,5
1 0,8 – 1,1
0 < 0,7













TABEL PENGHITUNGAN JUMLAH SISWA YANG MEMPEROLEH
NILAI ≥ 75 DAN < 75 ASPEK KEMAMPUAN III


NILAI
≥ 75
NILAI 75

JUMLAH
PERSENTASE JUMLAH PERSENTASE
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
13
11
13
9
9
-
-
-
-
-
-
28,9
24,4
28,9
20
20
-
-
-
-
-
-
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0 -
-
-
-
-
5
7
2
-
-
-
-
-
-
-
-
11,1
15,6
4,4
-
-
-

JUMLAH 31 68,9 JUMLAH 14 31,1
















DATA IV : Kemampuan Memahami Pengertian Bahasa Kias Personifikasi
dalam Puisi
Skor Makasimal Ideal ( SMI ) = 2 x 5 = 10
Nilai Rata-rata Ideal ( MI ) = x SMI = x 10 = 5
Standar Deviasi Ideal ( SDI ) = x MI = x 5 = 1,66

TABEL KONVERSI PENGUBAHAN SKOR MENTAH KE NILAI 0 - 10




SKALA
SIGMA SKALA
NILAI SKALA
ANGKA

MI + 2,25 SDI

MI + 1,75 SDI

MI + 1,25 SDI

MI + 0,75 SDI

MI + 0,25 SDI

MI + 0,25 SDI

MI + 0,75 SDI

MI + 1,25 SDI

MI + 1,75 SDI

MI + 2,25 SDI 10
5 + 2,25 ( 1,66 ) = 5 + 3,74 = 8,74

5 + 1,75 (1,66 ) = 5 + 2,91 = 7,91

5 + 1,25 ( 1,66 ) = 5 + 2,08 = 7,08

5 + 0,75 ( 1,66 ) = 5 + 1,25 = 6,25

5 + 0,25 (1,66 ) = 5 + 0,25 = 5,42

5 - 0,25 (1,66 ) = 5 – 0,42 = 4,58

5 – 0,75 (1,66 ) = 5 - 1,25 = 3,75

5 - 1,25 (1,66 ) = 5 – 2,08 = 2,92

5 - 1,75 ( 1,66 ) = 5 – 2,91 = 2,09

5 - 2,25 ( 1,66 ) = 5 – 3,74 = 1,26 8,75 – 10
9 7,92 – 87,4
8
7,09 – 7,91
7
6,26 – 7,08
6 5,42 – 6,25
5 4,59 – 5,42
4 3,76 – 4,58
3 2,93 – 3,75
2 2,10 – 2,93
1 1,27 – 2,09
0 1,26












TABEL PENGHITUNGAN JUMLAH SISWA YANG MEMPEROLEH
NILAI ≥ 75 DAN < 75 ASPEK KEMAMPUAN IV


NILAI
≥ 75
NILAI 75

JUMLAH
PERSENTASE JUMLAH PERSENTASE
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
-
6
-
14
-
-
-
-
-
-
-
-
13,3
-
31,1
-
-
-
-
-
-
-
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0 -
-
-
-
-
18
-
5
-
2
-
-
-
-
-
-
40
-
11,1
-
4,4
-

JUMLAH 20 44,4 JUMLAH 25 55,5

















DATA V : Kemampuan Memahami Pengertian Bahasa Kias Personifikasi
dalam Puisi
Skor Makasimal Ideal ( SMI ) = 10 x 5 = 50
Nilai Rata-rata Ideal ( MI ) = x SMI = x 50 = 25
Standar Deviasi Ideal ( SDI ) = x MI = x 25 = 8,33

TABEL KONVERSI PENGUBAHAN SKOR MENTAH KE NILAI 0 - 10




SKALA
SIGMA SKALA
NILAI SKALA
ANGKA

MI + 2,25 SDI

MI + 1,75 SDI

MI + 1,25 SDI

MI + 0,75 SDI

MI + 0,25 SDI

MI + 0,25 SDI

MI + 0,75 SDI

MI + 1,25 SDI

MI + 1,75 SDI

MI + 2,25 SDI 10
25 + 2,25 ( 8,33 ) = 25 + 18,7 = 43,7

25 + 1,75 ( 8,33 ) = 25 + 14,6 = 39,6

25 + 1,25 ( 8,33 ) = 25 + 10,4 = 35,4

25 + 0,75 (8,33 ) = 25 + 6,24 = 31,2

25 + 0,25 ( 8,33 ) = 25 + 2,08 = 27,1

25 - 0,25 (8,33 ) = 25 – 2,08 = 22,9

25 – 0,75 ( 8,33 ) = 25 – 6,24 = 18,8

25 – 1,25 (8,33 ) = 25 – 10,4 = 14,6

25 – 1,75 ( 8,33 ) = 25 – 14,6 = 10,4

25 – 1,75 ( 8,33 ) = 25 – 18,7 = 6,3 48,8 – 50
9 39,7 – 43,7
8
35,5 – 39,6
7
31,3 – 35,4
6 27,2 – 31,2
5 23 – 27,1
4 18,9 – 22,9
3 14,7 – 18,8
2 10,5 – 14,6
1 -6,4 – 10,4
0 6,3

















TABEL PENGHITUNGAN JUMLAH SISWA YANG MEMPEROLEH
NILAI ≥ 75 DAN < 75 ASPEK KEMAMPUAN V


NILAI
≥ 75
NILAI 75

JUMLAH
PERSENTASE JUMLAH PERSENTASE
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
-
-
24
-
8
-
-
-
-
-
- -
-
8,9
-
17,8
-
-
-
-
-
- 10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0 -
-
-
-
-
6
-
15
6
-
6
-
-
-
-
-
13,3
-
33,3
13,3
-
13,3
JUMLAH 12 26,7 JUMLAH 33 73,2











SKOR DAN NILAI KEMAMPUAN MEMAHAMI BAHASA KIAS DALAM
PUISI

ND SKOR NILAI
01
02
03
04
05
06
07
08
09
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45

14
14
14
12
14
14
14
10
10
12
10
14
14
12
10
6
10
10
10
10
10
10
12
12
12
12
14
14
14
14
10
16
14
14
18
14
16
14
14
16
14
14
14
14
12

7
7
7
7
6
7
7
7
5
5
6
5
7
7
6
5
3
5
5
5
5
5
6
6
6
6
7
7
7
7
5
8
7
7
9
7
8
7
7
8
7
7
7
7
6




Keterangan :
ND : Nomor Data






















LEMBAR JAWABAN TES KEMAMPUAN MEMAHAMI BAHASA KIAS DALAM PUISI SISWA KELAS II………….


LEMBAR D
Nama :
Kelas :
No :

1. a b c d
2. a b c d
3. a b c d
4. a b c d
5. a b c d
6. a b c d
7. a b c d
8. a b c d
9. a b c d
10. a b c d



















KUNCI JAWABAN INSTRUMEN PENGUMPULAN DATA

AK I : 1. a
2. a
3. a
4. a
5. a
6. a

7. b
8. c
9. d
10. d




keterangan ;
AK : Aspek Kemampuan



















DAFTAR SISWA SAMPEL

KODE NAMA SISWA KODE NAMA SISWA
01
02
03
04
05
06
07
08
09
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar